BANDAR Udara Sentani Jayapura, Papua, tidak sesibuk bandara lain di Indonesia. Lalu lintas pesawat yang melintas di wilayah itu tidak begitu banyak. Bandara itu beroperasi mulai pukul 06.00 WIT dan berakhir pada pukul 17.30. Setelah itu, praktis tidak ada penerbangan malam. Padahal, Bandara Sentani bisa didarati pesawat pada malam hari karena alat navigasi relatif lengkap. Beberapa kali pesawat pernah mendarat malam di sana, termasuk pesawat rombongan menteri ataupun presiden.
Namun, penerbangan perintis di Bandara Sentani cukup ramai bila dibandingkan dengan penerbangan komersial yang dimiliki maskapai besar. Pada umumnya, di Papua, penerbangan milik misionaris dan perintis cukup dominan. Begitu pentingnya keberadaan pesawat-pesawat kecil tersebut untuk mengangkut barang, dokumen, bahan pangan, hingga penumpang ke tempat terpencil. Namun, lagi-lagi cuaca dan arah angin yang cepat berubah sangat membahayakan keselamatan penerbangan. Penerbangan perintis pun dituntut lebih mengutamakan keselamatan penerbangan daripada mengejar rupiah.
Peran penerbangan perintis membuka hubungan daerah pedalaman dengan daerah luar sudah dilakukan secara swadaya dengan bantuan gereja. Direktur maskapai Associated Mission Aviaton (AMA) Papua Djarot Soetanto mengakui penerbangan perintis apalagi AMA merupakan perintis di Papua. Dia memaparkan AMA merupakan penerbangan perintis misi Katolik di Papua sejak Maret 1959 atau lima tahun setelah Mission Aviation Fellowship (MAF) di Papua. Penerbangan misi perintis itu telah membuka suatu dimensi baru peradaban di Papua yang selama ini tidak terhubungkan dengan dunia luar, terutama masyarakat pedalaman.
Pada saat itu mulai dikerahkan pembukaan lapangan terbang misi yang dilakukan secara swadaya. Pada umumnya terjadi pertumbuhan penduduk dan permukiman di sekitar lapangan terbang. Itulah cikal bakal pusat hunian di pedalaman seperti Oksibil, Wamena, dan Dekai. Peradaban dengan Injil yang dibawa para misionaris secara tidak langsung membuat masyarakat dididik belajar bahasa termasuk berkomunikasi, dengan menggunakan bahasa Melayu Ternate, yang nantinya berkembang menjadi bahasa Indonesia.
"Jadi membuka komunikasi dengan dunia luar serta memunculkan peradaban baru, misalnya dunia pendidikan. Misi tersebut mendirikan sekolah di pinggir lapangan terbang. Akhirnya kawasan itu berubah dalam peradaban masyarakat Papua. Selain membawa penumpang, pesawat misi membawa barang-barang untuk didistribusikan," jelasnya.
Djarot menambahkan, dalam penerbangan misi tersebut, masalah keselamatan menjadi hal utama. Berdasarkan pengalaman AMA dalam melayani penerbangan di pedalaman, ada jam-jam khusus daerah tertentu tidak boleh didarati pesawat. Penyebabnya cuaca yang cepat berubah, apalagi landasan pacu yang ada hanyalah lapangan berumput yang tidak rata.
Untuk itu, para pilot harus betul-betul menguasai medan. Sebelum terbang, para pilot harus mengetahui betul lokasi yang dituju dan jalur penerbangannya. "Tidak semua pilot yang sudah punya lisensi bisa menerbangkan pesawat di AMA. Meski di luar sana para pilot sudah menerbangkan pesawat Airbus sekalipun dengan jam terbang tinggi, saat masuk AMA harus di-training (dilatih) lagi," lanjut Djarot.
AMA juga meminta bantuan tenaga lapangan dari masyarakat lokal yang ada di sekitar lapangan terbang. Tenaga lapangan dilengkapi handy talkie dan radio yang setiap saat melaporkan kondisi cuaca, sesuai dengan yang diajarkan para mentor di AMA. Menurut Djarot, apabila semua regulasi di dunia penerbangan dipatuhi, semua akan aman-aman saja. Dia mencontohkan di AMA ada inspeksi rutin selama 50 jam dan pemeriksaan pesawat selama 100 jam sesuai dengan manajemen keselamatan.
"Kami ini menjalankan penerbangan nonniaga. Harus jujur diakui, kami tidak mendapat subsidi. Namun, AMA selalu terbang hingga pelosok. Sebenarnya penerbangan bisnis sangat pelik dan untungnya kecil. Kami tanamkan visi keselamatan AMA. Salah satunya pada 2020, AMA akan menjadi penerbangan paling aman di Papua," tegasnya.
Berdasarkan sejarah penerbangan di Papua, AMA telah singgah di berbagai daerah di Papua. Dengan pesawat yang dimiliki, para pilot mampu mendarat di lapangan terbang yang berukuran pendek dan sulit. Pelayanan misi juga terus dipertahankan hingga kini, sebagai identitas AMA sesungguhnya. Salah satunya, AMA ialah maskapai yang selalu membawa orang sakit dari daerah mana pun di Papua menuju Jayapura untuk dirawat, tanpa dipungut biaya apa pun.