MESKI kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan terus menipis, dampak dari bencana itu tetap harus menjadi perhatian serius. Anak-anak paling rentan menanggung akibat. Jika tak ditangani secara optimal, mereka akan menjadi generasi yang lemah.
Anggota Departemen Bidang Pembinaan Anggota dan Organisasi Ikatan Dokter Indonesia M Yahya mengatakan anak-anak menjadi rentan setelah lama terpapar asap karena sistem kekebalan saluran pernapasan mereka belum sempurna. "Imunitas anak masih sanggup untuk mengatasi polusi asap yang tak terlalu parah. Namun, bila intensitasnya cukup besar, daya tahan anak belum sanggup," ujar M Yahya di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan asap mengandung sejumlah partikel berbahaya seperti silika, oksida besi, alumina, dan timbel. Adapun dalam bentuk gas terdapat karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan hidrokarbon dengan berbagai ukuran.
Silika yang terhirup bisa merusak paru-paru karena bentuknya yang tajam seperti pecahan kaca. Kalau terbawa darah sampai ke otak, partikel-partikel itu diduga bisa memicu timbulnya gejala alzheimer (pikun), parkinson, atau gagal ginjal. "Namun, risiko timbulnya penyakit ini baru terlihat pada jangka panjang, bisa 10 tahun kemudian," tambah dokter spesialis paru tersebut.
Yang jelas, imbuh Yahya, anak-anak yang rutin terpapar asap dalam rentang waktu lama dan berulang akan berdampak pada melemahnya daya tahan tubuh. Hal senada disampaikan dokter spesialis jantung anak Siloam Heart Institute, Ganesja Harimurti. Dia menyebutkan banyak pakar menduga bahwa bencana kabut asap bisa menjadi pemicu penyakit jantung bawaan pada anak. "Namun, dugaan ini harus dipastikan melalui penelitian dahulu."
Pernyataan kedua praktisi kesehatan itu selaras dengan hasil riset Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Ketua PDPI, Agus Dwi Susanto, menyatakan bencana asap biasanya akan meningkatkan jumlah penderita sakit kepala dan mata hingga 50%. Kasus infeksi saluran pernapasan atas juga meningkat 3,8 kali pada daerah yang terkena bencana.
"Serangan asma umumnya juga bertambah akibat bencana asap. Selain itu, akan terjadi perburukan kondisi pada pengidap penyakit jantung dan penderita penyakit paru. Berdasarkan penelitian, risiko kematian pada orang berpenyakit kronis pun akan meningkat 3%," ujar Agus.
Mereka sepakat pemerintah wajib mencermati masalah itu dan berupaya mencegah terjadinya generasi yang lemah. Aktivis Koalisi Jambi Melawan Asap, Fauzan Fitra, juga mengingatkan pemerintah untuk tak berhenti mengawasi dan memberi pelayanan medis terbaik kepada korban asap.
Cenderung pasif Menurut Fauzan, pelayanan kesehatan terhadap korban kabut asap di Jambi jauh dari maksimal. Aparat cenderung pasif dan hanya menunggu kunjungan warga di puskemas atau rumah sakit.
"Padahal, jika mau kerja sedikit lebih keras, pemerintah bisa menyuruh pelayan medis melakukan patroli ke kantong-kantong korban asap. Mestinya, walau hanya sekadar vitamin, jika dibagikan sedikit banyak, bisa menambah daya tahan tubuh warga, khususnya anak-anak."
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan tidak lantas mengakibatkan seseorang menderita penyakit berbahaya. Namun, ia mengakui kemungkinan itu bisa saja terjadi dalam jangka panjang.
"Itu pun bukan semata-mata akibat menghirup kabut asap. Banyak faktor yang memengaruhi. Masyarakat jangan sampai termakan isu yang belum tentu benar," tegasnya.
Menkes telah mengeluarkan surat edaran agar setiap daerah bencana asap mendirikan rumah singgah sebagai tempat evakuasi agar balita dan anak-anak mendapatkan udara segar.(SL/Mut/DY/X-9)