Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
"OKELAH mau mengkritisi atau memperlihatkan rasa peduli terhadap warga korban kabut asap. Namun, kata orang Padang, habis berkelahi baru ingat silat. Kabut asap sudah mau hilang mereka baru seolah-olah mau peduli."
Kalimat itu meluncur ketus dari mulut Agoes Pelaz, warga Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi.
Ia menanggapi polah pimpinan dan sebagian anggota DPR mengenakan masker dalam Rapat Paripurna di Ruang Sidang Nusantara II, kompleks parlemen, Senayan, yang berpendingin udara dan steril dari asap, kemarin.
Tak cuma Agoes, sejumlah warga yang sudah berbulan-bulan tercekik asap akibat pembakaran lahan dan hutan pun kecewa berat dengan perilaku wakil rakyat tersebut.
Ketua DPP Ikatan Pemuda Indonesia Jambi, Amrizal Ali Munir, menyatakan ulah itu menyakiti hati masyarakat.
"Apa yang mereka perlihatkan secara tidak langsung melihatkan kepada rakyat, mereka telmi alias telat mikir."
Bagi Direktur Eksekutif Walhi Riau, Riko Kurniawan, aksi DPR itu terkesan hanya pencitraan. Seharusnya, mereka berjuang dengan menghasilkan produk hukum agar bencana asap tidak terulang.
Widyasari, warga Panarung, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tak kalah sengit menanggapi ulah pimpinan DPR.
"Mereka seharusnya turun ke lapangan. Tidak usah pakai masker saat rapat, emangnya di sana ada asap seperti di sini?"
Aldho, relawan asal Pontianak, Kalimantan Barat, bahkan menilai tindakan itu sensasi murahan.
"Sewaktu kabut asap sedang pekat-pekatnya, mereka ke mana?" Dia tambahkan, banyak hal yang lebih penting untuk mereka lakukan terkait dengan malapetaka asap ketimbang mengenakan masker saat sidang.
DPR, misalnya, bisa mendesak pemerintah mengumumkan nama-nama perusahaan tersangka pembakar lahan.
Dagelan politik
Memang ada yang berbeda dalam Rapat Paripurna DPR, kemarin.
Sebelum dimulai, sejumlah protokoler DPR membagikan masker kepada anggota DPR, staf, hingga wartawan.
"Kita diperintahkan langsung oleh Pak Ketua (Ketua DPR Setya Novanto)," ujar protokoler DPR, Eko Supriyanto.
Sejumlah anggota DPR menerima masker itu, tapi banyak pula yang tak mengambil.
Saat rapat dimulai, tampak berdiri di belakang meja pimpinan, Setya Novanto (Partai Golkar) serta Wakil Ketua DPR Fadli Zon (Gerindra), Agus Hermanto (Demokrat), Fahri Hamzah (PKS), dan Taufik Kurniawan (PAN) mengenakan masker.
Rapat Paripurna untuk mengesahkan RAPBN 2016, Pansus Asap, dan penutupan masa sidang itu kemudian dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya.
Saat menyanyikan lagu kebangsaan, Novanto, Agus, dan Taufik tetap memakai masker, sedangkan Fadli Zon dan Fahri membukanya.
Suara protes pun mencuat.
Interupsi kian tajam saat Taufik yang memimpin rapat mengajak peserta memakai masker yang sudah dibagikan.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro juga mengenakan masker.
Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem Johnny G Plate kecewa atas sikap pimpinan DPR yang menjadikan masalah asap sebagai 'dagelan politik' karena mengenakan masker dalam rapat paripurna.
Kekecewaan juga dilontarkan Arya Bima (PDIP).
Tak hanya soal masker, kotak Donasi Solidaritas untuk Asap yang ada di Gedung Nusantara II juga dikritik.
Namun, menurut anggota DPR dari Partai Demokrat, Nurhayati Assegaf, mengenakan masker di ruang sidang tidak menyalahi aturan.
Taufik Kurniawan pun menegaskan penggunaan masker itu semata bentuk solidaritas kepada korban kabut asap.
(Tim/X-9)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved