Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Bullying Masih Jadi Persoalan Serius dalam Sistem Pendidikan di Indonesia

Naviandri
01/1/2026 23:26
Bullying Masih Jadi Persoalan Serius dalam Sistem Pendidikan di Indonesia
Rektor UPI Didi Sukyadi(MI/Naviandri)

REKTOR Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Didi Sukyadi, menyoroti praktik perundungan (bullying) masih menjadi persoalan serius dalam sistem pendidikan Indonesia. Kasus ini bahkan telah memakan korban jiwa, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.

"Perilaku bullying kerap disalahpahami sebagai sebuah candaan.  Padahal, indikator utamanya terletak pada dampak psikologis yang dialami korban. Kalau dua-duanya tertawa mungkin bukan bullying. Tapi kalau yang satu tertawa dan yang lain cemberut, itu sudah bisa masuk kategori bullying,” jelasnya Selasa (30/12). 

Menurut Didi bullying bukan fenomena baru, bahkan sudah ada sejak dahulu saat dirinya masih di bangku sekolah dasar hingga menengah. Di masa lalu praktik bullying ini biasanya berupa ejek atau memanggil dengan nama orangtua.  Namun, saat ini bullying semakin parah yang dampaknya yang jauh lebih serius.

 “Sekarang bullying sudah sangat menggelisahkan, bahkan sampai menyebabkan korban meninggal dunia,” ungkapnya. 

Menurut Didi, fenomena bullying juga terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Bullying telah menjadi isu nasional dan objek kajian riset serius hingga mendapat perhatian pimpinan tertinggi negara. Selain bullying, Didi juga menyoroti ancaman baru dalam dunia pendidikan, yakni pengaruh penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap psikologi anak dan remaja. 

“Generative AI sekarang bisa berperan seolah-olah sebagai psikolog, dokter, atau guru. Masalahnya, tidak semua pengguna mampu membedakan saran yang berdampak positif atau justru negatif,” paparnya. 

Didi menyebutkan kasus di luar negeri, dua anak dilaporkan melakukan bunuh diri setelah terpengaruh interaksi dengan AI, karena dorongan untuk berpindah dari realitas kehidupan yang mereka jalani. “Ini tantangan nyata pendidikan hari ini, bullying dan dampak psikologis penggunaan AI,” tandasnya. 

Didi menilai, akar persoalan bullying salah satunya adalah ketidaksamaan pemahaman tentang definisi dan batasan perilaku bullying.  Karena itu, ia menekankan pentingnya kesepahaman bersama antara siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat. 

“Semua pihak harus tahu mana yang termasuk bullying dan mana yang bukan. Kalau pemahamannya sama, maka harus ada garis merah yang jelas dan sanksinya juga jelas,” terangnya.

Ia mendorong sekolah dan kampus memiliki mekanisme khusus, seperti tim atau pejabat yang menangani kasus perundungan secara serius dan berkelanjutan, serta melibatkan orang tua dalam setiap penanganan kasus. “Ini bukan hanya tanggung jawab guru atau kepala sekolah, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.(E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya