Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Otoritas Jasa Keuangan Daerah Istimewa Yogyakarta, Eko Yunianto menyampaikan, kinerja fintech peer to peer (P2P) lending terus mengalami pertumbuhan, yaitu 21,61% pada triwulan I, 12, 9 pada triwulan II, dan 14,76 pada Agustus 2025.
Outstanding pinjaman fintech peer to peer (P2P) lending pada Agustus 2025 tercatat sebesar Rp1,258 triliun, tumbuh 14,76% yoy, lebih tinggi dibandingkan outstanding Triwulan II 2025 yaitu 1,164 triliun dengan pertumbuhan 12,9% yoy.
"TWP 90 pada Agustus 2025 tercatat 2,66% atau mengalami penurunan dibandingkan posisi Triwulan II 2025 yaitu 3,31% ," terang dia dalam siaran pers, Kamis (1/1/2026).
Di sisi lain, Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, melihat data yang ada, Industri fintech di Indonesia diprediksi masih terus tumbuh. Hal itu didorong oleh adopsi teknologi digital dan kebutuhan layanan keuangan yang lebih inklusif.
Laporan Mordor Intelligence mencatat, pasar fintech Indonesia diperkirakan bernilai US$20,93 miliar pada 2025 dan akan mencapai US$32,67 miliar pada 2030.
Menurut dia, pertumbuhan ini turut memperkuat UMKM untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas yang dapat membuka kesempatan kerja hingga ke tingkat akar rumput. Dampaknya, perekonomian daerah bisa meningkat dan menciptakan kesejahteraan yang merata.
“Fintech tidak hanya menjadi salah satu sektor jasa keuangan yang berkontribusi sebesar 4,74%terhadap perekonomian Indonesia," jelas Andi. Lewat layanan keuangan seperti pembiayaan, dompet digital, investasi mikro, dan produk lainnya, fintech telah mendukung penguatan UMKM yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja.
Sepanjang 2024, Amartha turut mendorong terciptanya lebih dari 110.000 lapangan kerja di perdesaan yang berasal dari perempuan pengusaha UMKM di daerah. Hal ini menunjukkan bahwa fintech dapat menjadi katalis bagi kemandirian ekonomi dan keluarga di perdesaan.”
Berdasarkan Sustainability Report Amartha 2024, sebanyak 77%mitra mengalami peningkatan total pendapatan sejak bergabung sebagai mitra, sehingga memiliki ruang finansial yang lebih sehat untuk menabung dan menambah aset.
Selain itu, 50.467 UMKM skala ultra mikro berhasil naik kelas menjadi usaha skala kecil, yang mencerminkan dampak nyata pembiayaan Amartha terhadap keberlanjutan dan pertumbuhan usaha di tingkat akar rumput.
Capaian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM tidak hanya bergantung pada akses pembiayaan, tetapi juga pada pendekatan yang berkelanjutan. Amartha menyeimbangkan penyaluran modal dengan edukasi, pendampingan kewirausahaan, penyediaan layanan keuangan yang transparan, serta penguatan perlindungan data nasabah.
Atas inisiatif ini, Amartha pun meraih pengakuan internasional, sertifikasi Gold-Level dari MicroFinanza Rating (MFR), lembaga pemeringkat independen berbasis di Eropa. Dalam hal pembiayaan, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp35 triliun modal usaha kepada 3,3 juta perempuan UMKM di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.
“UMKM yang bertumbuh akan membuka peluang lapangan kerja di daerah sehingga dapat menekan laju urbanisasi. Dengan basis komunitas yang kuat, UMKM merekrut tenaga kerja dari komunitas setempat dan desanya. Ibu rumah tangga dan pemuda di daerah pun berpeluang mendapat pekerjaan serta penghasilan tanpa perlu merantau meninggalkan keluarganya. Dengan begitu, ekonomi daerah akan terus bergerak," ungkap Taufan.
Andi mengatakan, UMKM bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan ekosistem yang menghubungkan keluarga, pasar, dan komunitas. Di dalamnya tercipta lapangan kerja serta peluang usaha yang mendorong pemerataan kesejahteraan hingga ke perdesaan.
"Fokus kami adalah memperkuat ekonomi akar rumput agar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian lokal,” terang Andi Taufan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,47 juta orang pada Agustus 2024, atau naik 4,91% dibandingkan Februari 2024. Di sisi lain, ekonomi akar rumput yang digerakkan oleh UMKM menjadi penopang utama yang mampu menyerap 97% tenaga kerja di Indonesia. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved