Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Bahan Pokok Langka, Kota Takengon Nyaris Lumpuh

Amiruddin Abdullah Reubee
15/12/2025 17:09
Bahan Pokok Langka, Kota Takengon Nyaris Lumpuh
Situasi pasar dadakan Kamp di perbatasan Kabupaten Bener Meriah-Kabupaten Aceh Utara.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

FENOMENA siklon senyar yang berujung puncak banjir bandang pada Rabu dan Kamis (26-27/11) telah berlalu. Dibalik hari-hari setelah bencana melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat itu, sekarang menyisakan kehancuran, kedukaan, kesedihan dan keterpurukan ekonomi hingga terancam kelaparan.

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Senin (15/12) di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, ketersediaan berbagai barang kebutuhan pokok atau bahan makanan semakin langka. Akibatnya, harga bahan pokok melambung sehingga sulit terjangkau oleh warga. 

Di Kota Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, setelah kawasan itu terkurung longsor dan jembatan putus, harga beras sudah mencapai Rp400.000 hingga Rp500.000/sak (ukuran 15 kg). Harga tersebut melambung jauh dari harga sebelum bencana banjir yang berkisar Rp200.000 hingga Rp225.000/sak.

Lalu elpiji ukuran 15 kg (gas bright) dari sebelumnya Rp180.0000 hingga Rp200.000/tabung, kini naik menjadi Rp500.000/tabung. Kemudian elpiji ukuran 3 kg (gas melon) dari sebelumnya Rp20.000/tabung, sekarang naik menjadi Rp220.000/tabung.

Kemudian harga telur mencapai Rp120.000 hingga Rp160.000/papan (30 butir), dari sebelumnya Rp55.000 hingga Rp57.000/papan. Berikutnya harga ikan asin kwalitas sedang (standar) sudah mencapai Rp200.000/kg dari sebelum banjir Rp80.000/kg.

Kenaikan harga juga terjadi pada tempe, yaitu dari biasanya Rp25.000/batang (ukuran telapak tangan) kini naik menjadi Rp10.000/batang. 

KAYU BAKAR MELONJAK
Selain bahan makanan pokok, kenaikan harga juga disusul kayu bakar yang menjadi Rp35.000/ikat (ukuran 3 kali masak keluarga). Padahal sebelumnya kayu itu jarang dijual. Kalaupun ada yang jual paling sekitar Rp5.000 atau Rp7.000/ikat. Larisnya kayu bakar itu karena warga sudah beralih ke kayu bakar akibat kelangkaan elpiji. 

"Untuk mempertahankan kebutuhan keluarga tidak ada jalan lain kecuali harus membeli dengan harga mahal. Ini bukan pilihan, tapi keterpaksaan yang harus dijalani," tutur Rahmi Zul Maulida, dosen Pendidikan matematika UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe, yang juga tokoh masyarakat asal Takengon, Aceh Tengah. 

Dikatakannya, tingginya harga itu tidak bisa dihindari. Kondisi pasar Kata Takengon sudah hampir lumpuh yakni tidak banyak kedai bahan pokok yang masih buka. Sebagian lainnya sudah tutup karena kehabisan stok barang. Warung nasi dan warung kopi hampir tidak ada lagi yang aktif. Mereka lebih memilih tutup usaha akibat ketiadaan barang atau bahan baku. 

DIJUAL DI PINGGIR JALAN
Bahan pokok pangan saja lebih banyak digelar atau dijual di pinggiran jalan. Itu pun stoknya tidak banyak. Pasalnya barang-barang beras minyak, telor, ikan asin dan lainnya itu dibeli dari pasar dadakan Kamp sebuah kawasan tengah hutan pegunungan perbatasan Kabupaten Bener Meriah-Kabupaten Aceh Utara. Untuk menjangkau Kamp harus menempuh perjalanan puluhan kilometer atau satu hari pulang-pergi jalan kaki. 

Pasar Kamp itu timbul dadakan atas inisiatif pedagang Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe yang berjualan di jalur itu untuk meringankan pedagang dari Bener Meriah serta Aceh Tengah. 

Pedagang dari Aceh Tengah kalau berbelanja barang dagangan di Kamp harus menempuh jalan kaki menghabiskan waktu satu hari. Kalau menggunakan sepeda motor hanya bisa separuh jalan. 

Rahmi berharap penderitaan yang sudah lebih setengah bulan segera akan berakhir. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat Tanah Gayo itu sekarang sudah sekarat. Bahkan mereka yang sebelumnya pergi ke kebun kopi atau menanam sayuran sekarang semuanya terhenti. 

"Cukuplah penderitaan ini. Kami mohon pemerintah bukalah mata selebar-lebarnya. Kalaupun tidak meningkatkan status musibah ini sebagai bencana nasional, bukalah pintu izin kepada negara luar untuk membantu kami. Bagai mana kami berharap dari kondisi penanganan tanggap darurat ini, sudah 19 hari bencana, baru 1 kg beras kami terima," tutur warga Kota Takengon lainnya. (E-2) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya