Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperkuat koordinasi penanggulangan bencana menjelang periode rawan banjir, longsor, kebakaran, hingga potensi penumpukan sampah akibat kendala ritasi ke TPA Sarimukti.
Langkah ini disikapi melalui Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Penanggulangan Bencana di Aula Mapolrestabes Bandung, Kamis (11/12), yang melibatkan jajaran TNI–Polri, BPBD, dan unsur kewilayahan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa intensitas hujan tinggi telah meningkatkan risiko bencana, khususnya di wilayah utara–barat hingga timur Bandung.
“Yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah potensi longsor. Kami meminta jalur informasi diperkuat mulai dari Polsek, Koramil, hingga relawan. Jika ada ancaman longsor, segera informasikan. Pemkot akan langsung mengistirahatkan warga, tidak boleh ada kejadian fatal terulang,” tegas Farhan.
Farhan juga menyoroti peningkatan kasus rumah roboh dan kebakaran di permukiman padat yang berisiko tinggi menimbulkan korban jiwa. Ia menginstruksikan jajaran kewilayahan untuk menandai pohon-pohon rawan tumbang, terutama yang ditanam di pot beton sejak masa lalu dan kini memiliki akar rapuh.
Selain bencana hidrometeorologi, Pemkot juga mewaspadai potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada siklus tiga tahunan, yang diperkirakan terjadi pada 2026–2028.
Masalah sampah menjadi perhatian krusial. Saat ini, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.498 ton sampah per hari, namun hanya 1.200 ton yang dapat terangkut ke TPA Sarimukti.
Farhan memperingatkan bahwa situasi akan memburuk pada tahun depan. “Mulai pertengahan Januari 2026, kuota pembuangan ke TPA kemungkinan akan berkurang menjadi sekitar 980 ton per hari sehingga potensi penumpukan kembali mengancam,” tandasnya.
Pemkot Bandung saat ini sedang menyiapkan pengolahan sampah mandiri seperti biodigester dan insinerator berkapasitas 7–10 ton untuk menekan ketergantungan pada Sarimukti.
“Mulai 10 Januari [2026], kita akan masuk fase kritis. Saya minta seluruh unsur TNI–Polri, kewilayahan, dan masyarakat membantu agar penumpukan tidak terulang,” tutup Farhan. (AN/P-5)
BMKG memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 91S yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem, di sisi lain Forkompinda melakukan apel siaga bencana
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved