Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Desak Audit Komprehensif Bencana Banjir dan Longsor Sumatra

Agus Utantoro
10/12/2025 22:59
Desak Audit Komprehensif Bencana Banjir dan Longsor Sumatra
Anggota Basarnas gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kelurahan Sipange.(Antara)

PAKAR perkebunan kelapa sawit yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) Purwadi mendesak pemerintah menggelar audit komprehensif yang terkait dengan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat yang menimbulkan banyak korban.

Di depan Dies Natalis ke-67 Institut Pertanian "Stiper" Yogyakarta, Purwadi megatakan banyak kasus banjir di berbagai wilayah yang kemudian menuduh perkebunan kelapa sawit menjadi pihak yang bersalah. "Perlu ada audit yang komprehensif yang melibatkan banyak pihak dan hasilnya nanti dibuka agar seluruh masyarakat bisa mengakses," kata Purwadi.

Menurut dia, dari hasil pelacakan di lapangan, material yang terbawa banjir baik sampah maupun kayu gelondongan tidak ada satu pun yang berupa batang pohon kelapa sawit yang ikut menjadi material yang hanyut. Ia mengakui munculnya tudingan-tudingan bahwa perkebunan kelapa sawit menjadi bagian yang harus bertanggungjawab, harus diluruskan.


Sementara itu, Rektor Instiper, Harsawardhana dalam pidatonya mengemukakan Instiper merupakan Perguruan Tinggi Swasta dengan kompetensi inti (core competency) di bidang perkebunan dan perhutanan yang telah berdiri sejak 10 Desember 1958, tepatnya setahun setelah nasionalisasi perkebunan di Indonesia. 

Instiper, ujarnya memahami  bahwa saat ini dan di masa 5-10 tahun ke depan diperlukan kompetensi Sumber Daya Manusia yang mampu beradaptasi secara aktif terhadap perubahan yang disruptif pada lanskap pendidikan yang dipicu oleh perubahan cepat dan kompleks dari  dunia usaha dan bisnis  serta perubahan demografi penduduk yang akan didominasi oleh generasi Z.
     
Dalam satu dekade terakhir, faktor eksternal - PESTLE (Politics, Economy, Social, Technolgy, Law, Environment) , faktor lestari dan berkelanjutan dalam berbagai aspek (sustainability), faktor geopolitik dan geoekonomi serta perubahan iklim yang ekstrim dan dampaknya telah mendorong perubahan signikan di banyak aspek kehidupan memaksa banyak pihak berpikir keras untuk mendesain ulang semua bentuk aktivitasnya, termasuk entitas perguruan tinggi.
           
Karenanya, ujar Harsawardhana, kurikulum dan pembelajaran yang sejak 20 tahun terakhir dikembangkan melalui  konsep dan pendekatan ”Link and Match” yang diimplementasikan memakai wahana kemitraan strategis yaitu program University - Industry Partnership -  berfokus pada kebutuhan  spesifik yang diterjemahkan dalam bentuk  minat khusus dan kompetensi unik pada program studi. 

"Sasarannya adalah relevansi hasil pembelajaran dengan kebutuhan yang berarti tercapainya capaian pembelajaran atau learning outcomes lulusan dengan pengetahuan, keahlian dan ketrampilan serta attitude yang dibutuhkan oleh dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja," kata Rektor. 

Dikatakan, desain transformasi kurikulum dan metode pembelajaran bertujuan membangun kompetensi melalui pendekatan competency block yang bersifat modular, fleksibel dan adaptif sehingga mampu mengantisipasi perubahan yang cepat. 

Rektor menegaskan teknologi adalah faktor kunci yang harus ditanamkan (embedded) baik sebagai penguat kompetensi utama dan pendukung  maupun sebagai sarana prasana proses pembelajaran. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya