Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Sumatra Barat Kembali Terang, Kisah Perjuangan Pemulihan Listrik Pascabencana

Alexader P. Taum
07/12/2025 09:37
Sumatra Barat Kembali Terang, Kisah Perjuangan Pemulihan Listrik Pascabencana
Pekerja bahu membahu memulihkan listrik di Sumatra Barat pascabencana.(MI/Alexander P Taum)


DI balik nyala lampu yang kembali menerangi malam Sumatra Barat pada Jumat (5/12) pukul 17.53 WIB, tersimpan kisah panjang tentang kerja tanpa tidur, medan berat dan gotong royong yang melampaui sekadar tugas teknis. Bagi masyarakat Agam, wilayah terakhir yang berhasil dinyalakan, momen itu bukan hanya tentang listrik kembali hidup, tetapi tentang pulihnya harapan setelah banjir dan longsor akhir November lalu memutus banyak akses serta menghentikan aktivitas warga.

“Alhamdulillah, listrik sudah bisa dinikmati oleh masyarakat dan aktivitas bisa berjalan seperti biasa,” ucap Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah, ketika memastikan semua wilayah terdampak telah kembali normal. 

Ada nada lega di kalimat itu. Lega karena fase darurat perlahan terlewati, lega karena ruang-ruang publik, rumah sakit, posko pengungsian, dan rumah warga kembali bertenaga. Bagi ribuan masyarakat yang berhari-hari hidup dalam gelap, nyala listrik adalah pertanda bahwa hidup perlahan kembali bergerak.

TIDAK MENGENAL ISTIRAHAT
Sejak hari pertama bencana melanda, PT PLN (Persero) memilih untuk bergerak all out. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan, kehadiran listrik di tengah situasi darurat bukan sekadar soal fasilitas, tetapi kebutuhan dasar yang menentukan kelangsungan layanan publik. “Seluruh personel bekerja 24 jam penuh untuk memastikan semua titik terdampak mendapatkan suplai listrik kembali,” ujarnya. 

Arahan datang langsung dari Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, agar pemulihan dilakukan tanpa kompromi terhadap waktu. Di lapangan, arahan itu menjelma menjadi aktivitas tanpa jeda. Tim yang tetap bekerja meski diguyur hujan, peralatan berat yang dipanggul manual, dan tiang-tiang jaringan yang dibangun ulang di titik-titik terisolasi.

JALAN TERJAL PEMULIHAN 
General Manager PLN UID Sumatra Barat, Ajrun Karim, menjadi saksi bagaimana pemulihan kelistrikan bergerak dari satu lokasi terdampak ke lokasi lainnya; Agam, Pasaman Barat, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Solok Selatan, hingga Kota Padang. Di beberapa titik, akses menuju jaringan listrik rusak total. Jalan putus, jembatan tergerus, dan kontur tanah yang labil memaksa seluruh tim berjalan kaki berkilometer sambil membawa peralatan.

“Petugas kami bersama TNI, Polri, dan masyarakat menembus jalur terjal, membawa peralatan berat secara manual, dan bekerja hingga malam hari,” kata Ajrun menggambarkan kondisi riil yang mereka hadapi.

Di banyak area, tiang jaringan harus dibangun dari nol. Total, 619 tiang jaringan tegangan menengah dan rendah dibangun kembali. Selain itu, sekitar 30,95 kilometer sirkuit kabel listrik diganti.

GOTONG ROYONG TENAGA UTAMA
Lebih dari sekadar kerja teknis, pemulihan listrik Sumatra Barat menjadi bukti bagaimana solidaritas dapat mempercepat pemulihan bencana. Sinergi antara Pemerintah Daerah, TNI, Polri, masyarakat, dan PLN menjadi kunci utama keberhasilan. “Kami menyaksikan bagaimana semangat gotong royong benar-benar hidup. Semua bergerak sebagai satu tubuh,” tutur Darmawan.

Di beberapa desa terisolasi, warga turun tangan membantu menyiapkan jalur untuk petugas PLN. Ada yang memikul kabel, menebas semak untuk membuka akses, hingga menyediakan makanan bagi tim yang bekerja hingga dini hari. Dalam situasi darurat, batas antara petugas dan masyarakat melebur menjadi satu: mereka sama-sama ingin melihat terang kembali.

LISTRIK HIDUP, KEHIDUPAN BERDENYUT 
Ketika lampu-lampu kembali menyala, banyak hal yang ikut pulih: aktivitas UMKM yang sempat berhenti, posko pengungsian yang kembali bertenaga, layanan kesehatan yang berjalan penuh, dan komunikasi warga yang kembali lancar. 

Sumatra Barat kini kembali terang, tetapi kisah pemulihan di baliknya akan selalu menjadi pengingat bahwa dalam masa paling gelap sekalipun, ada orang-orang yang bekerja diam-diam agar cahaya kembali hadir.

Bagi para petugas, aparat, pemerintah, hingga warga—setiap tiang yang ditegakkan, setiap kabel yang diganti, dan setiap titik yang kembali menyala adalah bukti bahwa ketika bencana datang, manusia mampu berdiri lebih terang dari sebelumnya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya