Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Pengasaman Laut Ganggu Interaksi Siput dan Bintang Laut

Siti Retno Wulandari
16/7/2016 00:40
Pengasaman Laut Ganggu Interaksi Siput dan Bintang Laut
(AFP/MAGAN CRANE)

SEPERTIGA emisi karbon dioksida (CO2) hasil aktivitas manusia ditengarai luruh ke lautan sehingga menyebabkan pengasaman laut. Sudah pasti kondisi tersebut akan memengaruhi biota laut, salah satunya respons siput laut terhadap sang predator, bintang laut. Siklus rantai makanan yang terputus akan menyebabkan ketidakstabilan suatu ekosistem. Itu seperti hasil penelitian yang dikeluarkan University of California, Davis, melalui jurnal Proceedings of the Royal Society B tentang gangguan interaksi antara predator dan mangsa. Siput laut dan bintang laut menjadi objek penelitian yang kemudian diambil kesimpulan umum, jika salah satu dari mereka terganggu, berimbas pada siklus rantai makanan.

Biasanya, siput laut black turban yang terdapat di sepanjang pantai pasifik akan segera naik ke bebatuan saat merasakan kehadiran bintang laut ochre. Namun, ketika tingkat pH air laut turun hingga angka 7,1 atau lebih, siput laut gagal merespons kehadiran si predator. Tingkat pH air laut normal di angka 8, tapi setiap perairan memiliki perbedaan bergantung pada kandungan kimia di wilayah tersebut. Ketua tim peneliti yang juga mahasiswa Jurusan Marine Ecology di UC Davis Bodega Marine Laboratory, Brittany Jellison, mengumpulkan beberapa siput laut black turban dan bintang laut ochre ke dalam 16 tangki berbeda di laboratorium yang kemudian diteliti berdasarkan perbedaan tingkat pH air laut. Ia menggunakan pH saat ini hingga asumi pH air laut di 2100.

"Saat pH air menurun, berarti asam meningkat. Hal tersebut tidak memengaruhi laju pergerakan siput ataupun mengurangi kemampuannya merasakan kehadiran bintang laut. Akan tetapi, merusak respons siput untuk melarikan diri," kata Jellison seperti dilansir pada laman Sciencedaily, Rabu (29/6). Penyebab pasti kesulitan melarikan diri siput laut memang belum ditemukan.

Karena itu, Jellison berharap ada penelitian yang lebih mendalam terkait dengan kondisi tersebut untuk memberikan pemahaman dari penurunan kemampuan melarikan diri atau malah mereka (siput laut) bisa beradaptasi dengan kondisi laut yang semakin asam di kemudian hari.

Rusak cangkang siput
Peneliti Echinodermata Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indra Bayu Vimono menjelaskan kondisi asam yang meningkat di laut dapat memengaruhi proses pembentukan cangkang siput dan hewan lain yang bercangkang. Tak hanya siput, biota yang membutuhkan unsur kapur dalam pembentukan tubuhnya pun pasti akan terganggu. Saat cangkang siput menjadi lebih rapuh, otomatis bintang laut dapat lebih mudah membuka pelindung siput tersebut. Pada penelitian Jellison dijelaskan, saat siput rentan bahaya bintang laut, populasi alga akan tumbuh sangat pesat.

Namun, Indra menjelaskan, dalam sistem rantai makan, ketika predator menghilang, suatu spesies tidak akan tumbuh dengan baik. "Tidak ada predator, ya, tidak akan ada kontrol sehingga tumbuhnya pun menjadi tidak maksimal. Terkait dengan pengasaman laut, beberapa hal yang kuat menyebabkan kondisi tersebut ialah pencemaran, emisi bahan bakar, hingga penebangan hutan," tukas Indra.

Untuk jenis black turban, Indra mengakui populasi jenis tersebut belum ia temui di sepanjang perairan laut Indonesia, tetapi banyak ditemukan di pantai Pasifik. Di luar dari siput sebagai makanan bagi bintang laut, Indra juga pernah melakukan penelitian mengenai siput yang hidup sebagai parasit di tubuh bintang laut dengan jenis yang berbeda.

Pun dengan sisi negatif bintang laut yang bisa menyebabkan terumbu karang mati. Karena itu, sebisa mungkin siklus rantai makanan tidak berkurang agar ekosistem dan keberlangsungan biota laut tetap terjaga. (M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya