Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
Tradisi Ngabekten di Keraton Yogyakarta pada Hari Raya Idul Fitri bagi masyarakat Indonesia pada umumnya menjadi momen untuk saling bersilaturahmi dan memaafkan. Setiap daerah pun memiliki tradisi berbeda beda dalam kegiatan yang akrab dengan sebutan halal bi halal pada saat Hari Raya Idul Fitri, termasuk di Keraton Yogyakarta.
Di Keraton kasultanan yang dipimpin oleh Sri Sultan HB X ini, tradisi saling memaafkan pada saat Idul Fitri dikenal dengan nama Ngabekten.
Menurut Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, selaku Pengageng Tepas Tondho Yekti, tradisi Ngabekten terus dilaksanakan sebagai upaya untuk terus melestarikan budaya yang sudah ada.
''Prosesinya sama dengan Ngabekten tahun-tahun sebelumnya,'' kata GKR Hayu, yang juga putri keempat Sultan HB X tersebut di Keraton Kilen, Selasa (5/7).
Ia juga menyampaikan, Ngabekten dilakukan pada hari pertama dan kedua, menurut penanggalan Sultan Agung, atau pada tanggal 7 dan 8 Juli 2016.
Pada 7 Juli, Ngabekten dilakukan khusus untuk abdi dalem, keluarga, dan kerabat laki-laki (kakung), sedangkan pada 7 Juli untuk abdi dalem, keluarga, dan kerabat perempuan (putri).
Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, Ngabekten dilakukan berdasarkan urut tua. Artinya, orang yang lebih muda akan mengunjungi ke orang yang lebih dituakan. Di Keraton Yogyakarta, Sultan yang bertahta adalah orang yang paling dituakan sehingga keluarga, kerabat, dan abdi dalem datang ngabekten ke Sultan yang bertahta.
Ada tata aturan dalam pelaksanaan Ngabekten di Keraton Yogyakarta, salah satunya adalah cara berpakaian para tamu. Sultan akan mengenakan pakaian takwa, sedangkan para tamu akan mengenakan pakaian sesuai yang telah ditentukan, sesuai kedudukan mereka.
Wakil Penghageng Tepas Tondho Yekti, Kanjeng Pangeran Haryo
(KPH) Yudhohadiningrat menambahkan, prosesi Ngabekten dilakukan di Bangsal Kencono, Keraton Yogyakarta. Para tamu datang terlebih dulu sebelum Sultan. Mereka menempatkan diri di tratag Bangsal Kencono.
Begitu Sultan memasuki Bangsal Kencono, pintu masuk sudah ditutup. Kedatangan Sultan diiringi dengan alunan gending Prabu Mataram atau Rojo Menggolo.
Prosesi Ngabekten pun dimulai setelah Sultan duduk di tempat duduknya.
Para tamu sesuai urutan menghampiri Sultan dengan berjalan jongkok lalu menyembah, melekatkan kedua telapak tangan dan menempelkan bagian ibu jari ke hidung.
Saat berada di depan Sultan, yang menyembah tersebut kemudian mencium lutut Sultan (sungkem). Menurut pria yang akrab disapa Romo Nur tersebut, ada alasan khusus ketika mencium lutut.
Ia mengatakan, salah satu bagian dari gelar Sultan adalah Ngersa Dalem Sampeyan Dalem. Arti dari sampeyan adalah kaki, yang maknanya, diikuti langkahnya oleh rakyat. ''Motor penggerak dari kaki adalah lutut. Itulah alasan lutut yang dicium (sungkem). Artinya, Sultan menjadi panutan, keteladanan yang langkahnya diikuti,'' kata dia.
Usai semua tamu melakukan sungkem, acara Ngabekten pun selesai. Sultan kemudian kembali ke tempat tinggalnya dengan iringan gending tedhak saking atau sri kondur.
Dalam sehari, Ngabekten dilakukan dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah para pangeran, wakil gubernur, bupati dan Walikota, dan para abdi dalem yang pangkatnya riya bupati ke atas, yang dilaksanakan pada pukul 09.00-12.00 WIB. Kelompok kedua adalah para wedana yang dilaksanakan dari pukul 13.00-14.00 WIB. Dan para darah dhalem dilaksanakan pada pukul 15.00-16.00 WIB.
Ngabekten merupakan tradisi saling memaafkan antara abdi dalem, pejabat di kabupaten dan provinsi dengan Sultan sebagai raja. ''Ngabekten juga untuk menunjukkan bakti dan loyalitas kepada raja,'' pungkasnya. (AT/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved