Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
STAF Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonisus Benny Susetyo mengatakan era globalisasi adalah penjajahan baru melalui budaya, kultur, teknologi seperti gadget.
"Generasi milenial ini harus menjadi perisai Pancasila, memiliki daya kritis memiliki budaya literasi sehungga tidak tergerus oleh zaman", ujar Benny Susetyo saat menjadi narasumber Seminar Nasional dengan tema "Pancasila Sebagai Perisai Intoleransi dan Ekstremisme di Arus Globalisasi dan Revolisi Industri 4.0", yang digelar oleh Deputi Bidang Hukum, Advokasi dan Pengawasan Regulasi BPIP, di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/3).
Ia juga mengajak kepada mahasiswa dan civitas akademik, pemerintahan dan masyarakat di Surabaya untuk tidak dimainkan oleh persepsi. Tidak mudah terbujuk oleh hal yang besar yang menyesatkan seperti intoleransi dan ekstremisme.
"Maka Pancasila harus jadi dasar kehidupan berperilaku bagi bangsa Indonesia," terangnga.
Benny berharap generasi muda harus memiliki kerangka berpikir yang berlandaskan Pancasila. Karena Pancasila sebagai ideologi dinamis yang menyesuaikan terhadap perkembangan zaman.
"Semua harus mulai membangun kesadaran bahwa Pancasila merupakan living ideology dan working ideology", tegasnya.
Deputi Bidang Hukum, Advokasi dan Pengawasan Regulasi BPIP K.A. Tajuddin, pada kesempatan sama mengatakan generasi milenial sangat penting pada masa kini dan masa akan datang.
Ia menegaskan Indonesia sangat beruntung memiliki Pancasila, karena dengan Pancasila keberagaman di Indonesia bisa disatukan.
"Kita bisa bayangkan jika tidak ada Pancasila, negara kita bisa bubar, karena antar suku atau agama mengedepankan suku agamanya masing-masing," ujarnya.
Ia berharap dengan Pancasila maka suku, agama dan lainnya diperlakukan sama, tidak ada yang diistimewakan terutama oleh pemerintah.
"Harapannya adalah suku, agama, diperlakukan sama tidak ada yang disitimewakan, kalau tidak tentu akan menimbulkan ketidak adilan", jelasnya.
Ia meyakini jika ideologi Pancasila dipastikan bisa menangkal intolernasi dan ekstremisme apalagi di era globalisasi dan revolusi industri 4.0 saat ini.
baca juga: Anggota MPR RI Ini Jelaskan Pentingnya 4 Pilar Kebangsaan
Dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Airlangga, Muhammad Nasih, mengajak mahasiswa agar Pancasila tidak hanya dijadikan dasar tetapi harus menjadi dasar pembangunan di Indonesia, baik sumber daya manusia, sosial, politik, ekonomi maupun infrastruktur.
"Dan Pancasila kalau menjadi tujuan bersama dalam pembangunan maka tujuan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan terwujud", paparnya.
Nasih menambahkan jika Pancasila ingin benar-benar menjadi benteng, kuncinya adalah Pancasila harus menjadi ideologi dan milik bersama baik dunia dan bangsa indonesia. "Jika Pancasila dimiliki hanya beberapa golongan saja, maka akan terus menjadi kontra", ucapnya.
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
Ingin melancong ke Uni Emirat Arab? Ini 7 destinasi yang cocok bagi Gen Z dan Milenial yang ingin berkunjung ke Dubai.
Wisatawan Indonesia terus menunjukkan antusiasme untuk bepergian, akan tetapi setiap generasi memiliki cara berwisata dan mencari pengalaman baru yang berbeda.
Remaja masa kini sulit lepas dari ponsel, bahkan di pesta ulang tahun. Simak ide pesta nostalgia tanpa layar yang bisa membuat mereka kembali menikmati kebersamaan.
Riset ini mengungkap perbedaan mencolok dalam cara Gen X dan Millennial mengelola pendidikan, kesejahteraan emosional, pengeluaran, dan waktu bersama keluarga.
Banyak anak muda memilih menggunakan uang untuk hal-hal yang dirasa dapat membuat mereka melupakan tekanan hidup, misalnya dengan belanja online.
Tren pembelian rumah tapak di kawasan Tangerang, khususnya Karawaci, semakin diminati, terutama oleh generasi milenial dan pasangan muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved