Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGA Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing dan Desa Denasari,
Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kini merasa lega. Sebab, mereka bisa dengan mudah melintasi Sungai Cimuntur yang selama ini menjadi pemisah kedua daerah tersebut.
Adalah Jabar Quick Response yang berinisiatif membangun jembatan
gantung untuk menghubungkan kedua desa. Organisasi kemanusiaan
bentukan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini mendirikan jembatan
sepanjang 55 meter selama 10 hari.
Koordinator Kanal Jembatan JQR, Mulla Panggabean, mengatakan, sebelumnya warga di dua desa berpenduduk 4.903 jiwa harus menggunakan jembatan rusak. "Untuk mengakses pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lainnya warga nekad dan bertaruh nyawa ketika menyeberangi sungai," kata Mulla, Jumat (14/1).
Menurutnya, pembangunan dilakukan berkat artisipasi warga yang dipadukan dengan tim teknis jembatan, sehingga dapat memotong waktu pembangunan. Dengan keterlibatan warga, dia berharap warga akan timbul rasa memiliki sehingga ke depannya turut merawat jembatan yang dibangun.
"Pengerjaan melalui jasa kontraktor akan lebih lama. Kunci kecepatan
adalah partisipasi masyarakat dengan tim teknis pengerjaan. Hal ini
adalah wujud dari comunity development yang dilakukan JQR untuk setiap
pelaksanaan pembangunan jembatan," ucapnya.
Mulla menambahkan, jembatan gantung adalah salah satu kanal aduan di
JQR. Masyarakat lainnya, bisa melaporkan ke website jabarq.id atau media sosial JQR jika memiki persoalan terkait kebutuhan akses jembatan
gantung untuk mobilisasi keseharian warga.
"Banyak warga melaporkan soal kebutuhan jembatan gantung di daerahnya
karena terputusnya akses ekonomi, pendidikan dan pelayanan lainnya. Karena itu kemudian jadi isu kemanusiaan yang wajib direspon oleh
JQR," ujar Mulla.
Lebih jauh, menurut dia, tujuan pembangunan jembatan bukan hanya
membangun infrastruktur, tapi juga etos yang selama ini ada di desa
yakni gotong royong.
"Jauh hari sebelum pembangunan kami melakukan assesmen dan sosialisasi sampai membentuk kelompok kerja, sehingga ujungnya bukan hanya membangun infrastuktur tapi juga menghubungkan manusia dengan manusia," katanya.
Selain gotong royong dengan warga, JQR juga berkolaborasi dengan Bank Jabar Banten (BJB) dan Vertical Rescue Indonesia (VRI).
Menurut Mulla, JQR sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan siapa pun
dan mengajak untuk bersama menuntaskan permasalahan kemanusiaan di Jawa
Barat.
"Sesuai dengan amanat Gubernur Jawa Barat, untuk percepatan menyelesaikan permasalahan kemanusiaan, kami harus mengedepankan
cara-cara kolaborasi. Selama itu urusan kemanusiaan mari kita bersama
selesaikan," lanjutnya.
Seorang warga yang juga guru di MI Kertabumi Titin Agutina menyatakan
rasa syukurnya. Awalnya banyak anak didiknya yang tidak bisa masuk kelas ketika arus sungai tengah deras.
Titin telah sangat lama mengharapkan jembatan yang aman untuk dilewati anak didik dan warga lainnya. "Mudah-mudahan dengan adanya jembatan ini membawa keberkahan untuk yang membangun, juga untuk yang melewatinya," ujarnya. (N-2)
Jembatan gantung yang dibangun untuk mempermudah akses transportasi, pendidikan serta perekonomian masyarakat.
Jembatan gantung ini menjadi bagian dari upaya TNI mendukung pemerataan pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.
Target pembangunan 43 jembatan gantung selesai akhir 2025.
Jembatan gantung Leuwi Sintok penghubung Desa Cimanggu dengan Karangmekar sudah diperbaiki. Meskipun perbaikan belum permanen, setidaknya jembatan bisa dilintasi.
Pemerintah Italia akan membangun jembatan gantung terpanjang di dunia dengan budget €13,5 miliar.
PANGLIMA Kodam IV/Diponegoro, Mayjen Deddy Suryadi, meresmikan Jembatan Gantung Merah Putih di Dukuh Modran, Desa Talang, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (11/2).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved