Sabtu 06 November 2021, 08:00 WIB

Gempa Guguran Mendominasi Kegempaan Gunung Merapi Selama Sepekan Terakhir

Agus Utantoro | Nusantara
Gempa Guguran Mendominasi Kegempaan Gunung Merapi Selama Sepekan Terakhir

AFP/Agung Supriyanto
Lahar mengalir dari puncak Gunung Merapi.

 

SELAMA seminggu terakhir, (29 Oktober-4 November 2021), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat kegempaan di Gunung Merapi yang berada di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten (ketiganya di Jawa Tengah), didominasi oleh kegempaan guguran (RF) yang mencapai 1.297 kali.

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, Jumat (5/11) malam, mengatakan kegempaan lainnya adalah 181 gempa hembusan, 33 kali gempa Fase Banyak (MP), dan 15 kali gempa tektonik serta 1 kali gempa awan panas guguran.

"Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih rendah dibandingkan dengan kegempaan pekan lalu," kata Hanik.

Baca juga: BBWS Citarum Bandung Kebut Kerjakan Proyek Pengendalian Banjir

Dijelaskannya, BPPTKG juga mencatat adanya 1 kali awan panas guguran ke arah barat daya dengan jarak luncur hingga 2.000 meter. Sedangkan guguran lava teramati sebanyak 106 kali ke arah barat daya dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter.

Sementara kubah lava, Hanik menjelaskan tidak terjadi perubahan morfologi yang signifikan, baik kubah lava tengah maupun kubah lava barat daya,

"Volume kubah lava barat daya sebesar 1.610.000 meter kubik dan kubah tengah sebesar 2.927.000 meter kubik," kata Hanik.

Selama periode pengamatan tersebut, tercatat terjadi hujan dengan intensitas sebesar 49 milimeter per jam selama 220 menit yang tercatat di Pos Kaliurang, Selasa (2/11) lalu. 

"Tidak dilaporkan terjadi  lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di puncak  Gunung Merapi," ujarnya.

Meski demikian, Hanik mengemukakan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif sehingga status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga.

"Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor Tenggara–Barat Daya sejauh maksimal 3 kilometer ke arah Sungai Woro dan sejauh 5 kilometer ke arah Sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak," katanya. (OL-1)

Baca Juga

Dok pribadi

UMKM Nahdliyin Siap Bangkit dan Bertumbuh

👤Media Indonesia 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 23:55 WIB
KRISIS ekonomi global akibat pandemi covid-19 mengakibatkan kegiatan bisnis domistik mengalami keruntuhan yang...
MI/BAYU ANGGORO

Brigjen TNI Achmad Fauzi Kunjungi 15 Veteran Pejuang Kemerdekaan di Bandung

👤Bayu Anggoro 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 23:35 WIB
Direktur Pengkajian dan Pengembangan Seskoad itu mengajak seluruh bangsa tidak melupakan jasa para pahlawan dan...
MI/BAYU ANGGORO

Organisasi Kebangsaan Indonesia Bersatu Ajak Warga Optimistis Menjadi Bangsa yang Besar

👤Bayu Anggoro 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 23:30 WIB
Dengan bonus demografi dan potensi sumber daya yang luar biasa, negara Indonesia ini memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara besar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya