Jumat 08 Oktober 2021, 12:46 WIB

Gali dan Lestarikan Budaya Lokal, Bali Purnati Gelar Program Kebudayaan Jiwa Gambuh

Ghani Nurcahyadi | Nusantara
Gali dan Lestarikan Budaya Lokal, Bali Purnati Gelar Program Kebudayaan Jiwa Gambuh

Dok. Yayasan Bali Purnati
Salah satu pementasan tarian dalam program Kebudayaan Jiwa Gambuh

 

YAYASAN Bali Purnati yang didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menggagas sebuah program kebudayaan yang bertemakan "Jiwa Gambuh" dengan membuat program seni budaya yang berkelanjutan. Program ini merupakan implementasi UU No 5 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Program Jiwa Gambuh sudah berlangsung di Desa Batuan Bali dengan beberapa rangkaian kegiatan penelitian dan pendokumentasian untuk menemukan kembali potensi seni budaya di desa tersebut. 

Ketua Pelaksana Program Jiwa Gambuh di Desa Batuan Andar Manik menjelaskan, kegiatan itu didasari dari amanat yang terkandung dalam undang-undang kebudayaan yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan, objek pemajuan kebudayaan dan warisan cagar budaya. 

"Drama tari gambuh sebagai salah satu praktek kesenian di Bali menjadi pilihan untuk diteliti dikarenakan drama tari klasik yang menjadi sumber dari banyak tarian, musik dan teater di Bali," kata Andar dalam keterangannya. 

Kegiatan awal temu kenali telah berjalan sejak April 2021 dengan bersilaturahmi dan riset ke berbagai sekaa Gambuh di Batuan dimana kegiatan riset terus bergulir hingga September 2021.Selama kurun waktu 5 bulan telah dilakukan pendokumentasian dari 5 Sekaa Gambuh yang ada di desa Batuan seperti Sekaa Sunari Wakya, Sekaa Mayasari, Sekaa Satriya Lelana, Sekaa Tri Pusaka Cakti dan Sekaa Kakul Mas. 

"Kelima Sekaa tersebut mementaskan Gambuh di beberapa titik lokasi di Yayasan Bali Purnati dan satu Sekaa mementaskan di Pura Puseh Batuan saat malam Purnama," ujar Andar Manik. 

Setiap pementasan dilakukan, juga dibarengi dengan pendokumentasian detail dari kostum, alat musik dan juga proses berlatih di masing-masing Sekaa. Pementasan tersebut berlangsung pada 17-19 September 2021 dan puncaknya pada 21 September 2021 pada saat purnama kapat di Pura Puseh Batuan.

Baca juga : Jokowi Minta Mangrove Center Bali Bisa Diperlihatkan ke Pemimpin G20

"Semua kegiatan dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat dan dipastikan seluruh pihak yang terlibat telah melakukan vaksin, menggunakan masker, selalu menjaga jarak dan mencuci tangan. Selain itu telah dilakukan swab antigen kepada seluruh pihak yang terlibat," tegas Andar Manik. 

Rangkaian kegiatan dari Jiwa Gambuh akan berlanjut dengan pameran lukisan gaya Batuan bertemakan “Jiwa Gambuh” yang diikuti oleh 13 pelukis dewasa dan 8 pelukis anak-anak Batuan. Mereka diberikan kebebasan untuk berimajinasi tentang Gambuh yang kemudian dituangkan di atas media lukis masing-masing.

Pameran lukisan berlangsung pada 3-10 Oktober 2021 di Yayasan Bali Purnati. D isela-sela pameran, pada 3 dan 10 Oktober akan diadakan workshop melukis gaya Batuan oleh anak-anak yang tergabung dalam sanggar Lukis anak Desa Batuan.

Yayasan Bali Purnati adalah sebuah wadah dan gerakan berbasis kesenian dan kebudayaan yang telah berdiri secara mandiri sejak 2000 di Desa Batuan. Yayasan Bali Purnati telah menciptakan lebih dari 150 kolaborasi nasional dan internasional berbasis budaya Indonesia. 

"Niat dari gerakan yang dilakukan Yayasan Bali Purnati adalah untuk menginspirasi dan menjadi penghubung dimana pertukaran, kolaborasi dan pemahaman diantara manusia, tradisi dan kebudayaan," jelas Andar Manik. 

Dari banyaknya kesenian di Bali, Yayasan Bali Purnati memiliki alasan tersendiri untuk mengangkat Gambuh. Batuan pun memiliki sejarah peradaban panjang yang tertulis dalam Prasasti Baturan yang sudah berusia 1000 tahun lamanya. Prasasti Baturan tersebut menceritakan peradaban manusia, tata laksana kehidupan manusia, kebudayaan, kesenian, ritual dan masih banyak lagi. Oleh sebab itulah, Gambuh yang kita ketahui saat ini merupakan asal muasal atau ibu dari banyaknya tari, musik dan teater di Bali. 

"Gambuh adalah bagian dari peradaban Kerajaan Bali terdahulu dan masa kini di Bali, oleh sebab itu, Gambuh sangat penting untuk diangkat, dikembangkan dan dilestarikan mengingat Gambuh adalah awal dari sebagian besar tari, musik dan teater di Bali," pungkas Andar Manik. (RO/OL-7) 

Baca Juga

Dok. Sahabat Ganjar

Penyandang Disabilitas Didorong Kembangkan Karya

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 06 Desember 2021, 01:36 WIB
Bantuan tersebut berupa tongkat untuk penyandang tuna netra dan kursi roda untuk membantu...
MI/ Bary Fathahilah

Pasien Sembuh Covid-19 di Gunung Kidul Bertambah Delapan Orang

👤Ant 🕔Minggu 05 Desember 2021, 23:58 WIB
Kasus aktif covid-19 di Gunung Kidul tinggal 39...
MI/Susanto

Vaksinasi di Medan Capai 78,55 Persen

👤Ant 🕔Minggu 05 Desember 2021, 23:42 WIB
Capaian vaksinasi tersebut, sudah melebihi target sebesar 70% yang ditetapkan oleh pemerintah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya