Selasa 21 September 2021, 16:50 WIB

Membangun Kemandirian Masyarakat di Kawasan Pesisir Sei Sembilang

Dwi Apriani | Nusantara
Membangun Kemandirian Masyarakat di Kawasan Pesisir Sei Sembilang

MI/Dwi Apriani
Kilang Pertamina Internasional Unit Plaju memberikan pelatihan pengelolaan sampah organic dan anorganik kepada masyarakat di Dusun IV dan Du

 

BERADA di kawasan pesisir Pulau Sumatra, tak membuat Dusun IV dan Dusun V Sei Sembilang, Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan hilang perhatian dunia luar. D usun ini berada di area Taman Nasional Berbak dan Sembilang yang menjadi kawasan khusus pemukiman bagi para nelayan tradisional.

Jarak dan lamanya perjalanan menuju ke dusun tersebut memang butuh rangkaian yang panjang. Dari Kota Palembang, tidak bisa dilalui dengan jalur darat saja, namun harus menggunakan jalur sungai dan laut. Lamanya waktu perjalanan di jalur sungai dan laut sekitar 3-4 jam. Dusun ini berada di ujung muara, perbatasan antara sungai dan perairan laut.

Lantaran itulah, Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Plaju menetapkan kawasan itu sebagai pilot project untuk Tanggung Jawab Lingkungan dan Sosial (TJSL), dengan mencetuskan program Bahari Sembilang Mandiri (BERLARI). Program ini merupakan kerjasama dengan Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang yang fokus orientasinya pada pengembangan aspek keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat.

Dusun IV dan Dusun V Sei Sembilang ini menjadi ring 2 bagi KPI Unit Plaju. Program ini mulai berjalan setelah dilakukan penandatanganan kerjasama (MoU) pada awal September 2021, namun kesiapan dan koordinasi bersama dilaksanakan sejak 2020 lalu.

Dalam program ini, berbagai kegiatan sudah dilaksanakan, mulai dari edukasi masyarakat terhadap lingkungan, pelatihan pemberdayaan kepada masyarakat, pelatihan pengelolaan sampah organic dan anorganik, hingga memberikan pendidikan non formal bagi masyarakat setempat.

Area Manager Communication, Relation, & CSR PT KPI Unit Plaju, Siti Rachmi Indahsari mengatakan, kerjasama dengan Taman Nasional Berbak dan Sembilang ini dirangkum dalam program BERLARI. Kerjasama ini bukan jangka pendek atau hanya satu tahun saja, melainkan akan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

Bahkan bukan hanya pemberdayaan masyarakat saja yang akan difokuskan di kawasan tersebut, Pertamina juga akan membantu pembangunan infrastruktur, dan kegiatan-kegiatan yang mengacu untuk menjaga keanekaragaman hayati, termasuk penataan mangrove.

"Kita memilih Dusun IV dan Dusun V Sei Sembilang ini karena memang berdasarkan hasil social mapping, kondisi di daerah sana perlu disentuh karena ada potensi permasalahan yang bisa diselaraskan dengan program-program Pertamina," ungkap Rachmi, Selasa (21/9).

Dari Masalah ke Solusi

Permasalahan yang paling utama adalah mengenai kepedulian masyarakat atas lingkungan, yang dinilai masih sangat rendah. Apalagi untuk permasalahan sampah atau limbah yang dihasilkan masyarakat, masih menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak untuk membantu masyarakat menyadari pentingnya menjaga lingkungan.

"Kami langsung menyentuh semua elemen masyarakat yang ada di Dusun IV dan V Sei Sembilang, untuk pemberdayaan berbasis masyarakat dan merangkul mereka agar lebih memahami pola hidup bersih dan sehat, termasuk dalam hal pengelolaan sampah," ujar Rachmi.

Adapun beberapa kegiatan yang sudah dilakukan di antaranya edukasi program hidup bersih dan sehat pada awal September dan baru-baru ini menggelar kegiatan pengelolaan mandiri sampah berbasis masyarakat.

"Kami meyakini, masyarakat akan bisa mandiri nantinya apabila ada sentuhan langsung, dan edukasi serta peran serta dari perusahaan. Nantinya dengan begitu akan muncul kepedulian terhadap lingkungan dengan sendirinya," ujarnya.

Bahkan KPI Unit Plaju pun memboyong para penggagas atau creator pengelola sampah yang sudah berkompeten untuk memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat di Dusun IV dan V Sei Sembilang. Rachmi mengatakan, pihaknya memberikan pelatihan pembuatan sampah ecobrick dan juga pembuatan pupuk kompos dengan memanfaatkan ember.

"Sejauh ini, masyarakat di Sei Sembilang ini sangat antusias dengan setiap pelatihan yang kita berikan. Kami berharap ini dapat menjadi semangat baru bagi masyarakat untuk mencintai lingkungannya dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai atau laut," ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga aktif  memberikan pendidikan non formal untuk dewasa dan anak-anak di Dusun IV dan V Sei Sembilang. Diakui Rachmi, berdasarkan hasil pemetaan, hampir sebagian besar masyarakat di dua dusun itu tidak dapat membaca dan menulis.

"Kita bantu memberikan pendidikan non formal, kita juga beri pelatihan agar masyarakat dapat memiliki kemampuan selain menjadi nelayan. Kami memberikan pemahaman kepada mereka bahwa di luar sana (luar kawasan Sei Sembilang) masih banyak potensi pekerjaan dan bisnis yang bisa mereka dapatkan," jelas Rachmi.

Hal lain yang dilakukan KPI Unit Plaju adalah melatih anak-anak di dusun tersebut untuk menjadi duta sampah. "Jadi mereka inilah yang nantinya mengingatkan orang tuanya agar tidak buang sampah sembarangan," kata dia.

Memahami Nilai Ekonomi Sampah

Kepala Dusun V Sei Sembilang, Yunan Alwi mengatakan, pemukiman di Sei Sembilang umumnya berbentuk rumah panggung. Ini yang menyebabkan masyarakat terbiasa membuang sampah langsung ke sungai dan laut. "Jadi memang disini, kalau selesai dipakai langsung dibuang (ke sungai), masyarakat di sini memang belum sadar atas pentingnya sungai dan laut. Sudah sering ada pihak yang datang dan mengedukasi, namun masyarakat belum tergerak hatinya," dalih Alwi.

Bahkan sempat ada bank sampah yang dipelopori berbagai pihak, namun tidak berjalan. Sekitar 130 KK di dusun ini kesulitan mencari tempat untuk membuang sampah. "Membakar sampah juga tidak bisa, karena kita ada di kawasan konservasi. Kuatirnya akan membakar lahan di Taman Nasional ini.Jadi memang muara tempat pembuangan sampah tidak ada," ujarnya.

Sampah yang ada di lingkungan tersebut, diakui Yunan, juga bukan mutlak dari warga di lingkungannya. Karena berada di muara sungai dan dekat laut, sehingga sampah berkumpul di daerah itu.

"Harapan kami, dengan adanya sentuhan dari Pertamina ini dapat membantu menyadarkan masyarakat atas pentingnya menjaga lingkungan," jelasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dusun IV Sei Sembilang, Abdullah. Menurut dia, dari 150 KK di wilayahnya itu memang terkesan cuek dalam hal membuang sampah. "Jadi sampah yang dihasilkan memang terbiasa dibuang ke laut. Karena memang tidak ada tempat sampah dan tempat pembuangan akhirnya. Kami sudah seringkali mensosialisasikan agar sampah tidak dibuang langsung ke sungai atau laut, namun belum berhasil," ujar Abdullah.

Melalui pelatihan pengelolaan sampah organic dan anorganik ini, pihaknya berharap Pertamina dapat membawa masyarakat Sei Sembilang untuk dapat peduli terhadap lingkungan dan kesehatan.

"Di sini itu faktornya adalah pendidikan dan pengetahuan yang minim atas pentingnya menjaga lingkungan.
Karena disini adalah muara sungai dan dekat dengan laut, maka masyarakat berpikir bahwa sampah yang dibuang nantinya akan tersapu ombak dan menghilang," pungkasnya.

Eka, warga Dusun IV Sei Sembilang, mengungkapkan, ia dan masyarakat di dusunnya memang tidak begitu mempersoalkan sampah. "Habis pakai, ya langsung buang. Nantinya kan sampah ini akan hilang saat air laut pasang," ungkap Eka.

Memang pernah ada program bank sampah, namun menurut dia, tidak dapat berjalan dengan baik. Karena warga kecewa bank sampah yang dijanjikan tidak menepati kesepakatan. "Hanya bertahan 3 hari saja, karena tidak menjanjikan, warga berhenti," kata dia.

Melalui pelatihan pembuatan sampah menjadi barang hias atau ecobrick yang diajarkan oleh Pertamina ini, Eka menilai dapat menjadi hal pembelajaran baru bagi mereka. "Kami juga baru tahu kalau sampah organic yang dihasilkan setelah memasak bisa menjadi pupuk kompos, dan barang plastic bisa menjadi hiasan di rumah. Kami akan praktekkan," janjinya. (OL-13)

Baca Juga

Ist

Gus Yahya: Saya hanya Ingin Mengabdi dan Membesarkan NU

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 16:50 WIB
Sudah ada sekitar 80% pengurus NU di seluruh Indonesia yang telah menyatakan dukungan kepada Gus...
Ilustrasi

Kajati Kalbar Ancam Tindak Tegas Penyalahgunaan Anggaran Covid-19

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 13:18 WIB
‘’Kami ingatkan jangan sampai main-main dalam pengelolaan keuangan negara ini, siapa pun yang menyalahgunakannya, akan kami...
MI/Adi Kristiadi

Mesin ATM di Dalam Indomaret Dibobol Pencuri di Tasikmalaya

👤Adi Kristiadi 🕔Senin 18 Oktober 2021, 12:50 WIB
KAWANAN  pencuri sukses membobol mesin ATM  yang berada di dalam minimarket Indomaret, di Kota Tasimalaya, Senin...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya