Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
PETERNAK ayam petelur se Jawa Timur yang tergabung dalam Gerakan Peternak Rakyat Indonesia (GAPRINDO) mendatangi gedung DPRD Jatim. Mereka melakukan hearing dengan Komisi B DPRD Jatim, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Satgas Pangan Jatim.
Koordinator GAPRINDO asal Blitar, Yasin Nurcahyo mengatakan, dampak Covid-19 juga dirasakan oleh peternak ayam petelur di Jatim. Menurutnya, para peternak mengeluhkan harga pakan yang melambung tinggi sedangkan harga jual telur dipasaran murah.
"Ini disebabkan karena kelebihan produksi ternak ayam, disisi lain permintaan pasar menurun drastis. Salah satu penyebabnya yaitu diberlakukannya sistem Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada masyarakat, sehingga banyak sektor ekonomi lain seperti restoran, hotel, usaha katering dan usaha lain yang berkaitan sudah banyak yang tidak beroperasi," ujarnya.
Yasin menambahkan PPKM sebagai upaya penanganan pandemi Covid-19 menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Hal tersebut menurutnya, ditambah dengan mahalnya biaya produksi membuat para peternak ayam menggadaikan surat-surat berharga untuk menutup kerugian.
"Saat ini harga pakan jadi Rp6.500 per kilogram, sedangkan harga jagung Rp5.700 hingga Rp6000 per kilogram. Sedangkan harga telur dari peternak hanya Rp13.500 - Rp14.500 per kilogram. Naiknya harga pakan ini karena harga jagung yang naik. Padahal jagung merupakan bahan pokok yang dalam pencampuran pakan pemakaiannya sampai 50 persen. Mahalnya harga pakan sangat membebani para peternak," ujarnya.
Lebih lanjut Yasin mengatakan masalah klasik jagung seharusnya bisa diselesaikan dengan penciptaan manajemen stok dan pengelolaan cadangan pasca panen. Sehingga ketersediaan jagung tidak bergantung musim dan tidak diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas.
"Perlu ada peran pemerintah untuk menciptakan keseimbangan permintaan dan pasokan," tuturnya.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Amar Saifuddin mengungkapkan pihaknya mendorong agar keluhan tersebut segera ditindaklanjuti. Sementara solusi yang didorong pihaknya adalah bantuan pangan non tunai dari pemerintah agar menyerap dari para peternak.
"Demikian juga CSR perusahaan itu lewat Dinas Peternakan untuk membeli telur dari peternak," ujar Amar.
Sementara itu Plt Kepala Bidang Bahan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Satoto Berbudi mengatakan terkait produksi jagung di Jatim terus mengalami peningkatan.
Namun, ia menambahkan petani jagung sebenarnya tidak memiliki nilai tawar. "Para petani ini justru mengikuti harga pasar, misalnya jika ada perusahaan yang membeli dengan harga Rp5000 maka akan dilepas, dilebihi Rp100 juga lepas. Jadi tidak punya nilai tawar," terangnya.(OL-13)
Baca Juga: Peternak Ayam Keluhkan Harga Pakan terus Naik, meski Harga ...
MENJELANG Hari Raya Idulfitri, sejumlah harga bahan pokok di pasar tradisional Kota Makassar mulai merangkak naik.
Pantauan di Pasar Gedhe Klaten, Senin (9/3), harga beras lokal medium IR-64 stabil Rp14.000 per kilogram, dan beras Bulog SPHP tetap Rp12.500 per kilogram.
Beras premium kelas I yang sebelumnya Rp14.400 per kg menjadi Rp15.200 per kg dan beras premium kelas II naik dari Rp 14 ribu kg menjadi Rp14.800 per kg
Daging sapi dijual Rp 140 perkg, daging ayam Rp 39 ribu perkg, telur telur ayam Rp 29 ribu hingga Rp 31.500 per kg.
Di Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon, untuk beras kualitas bawah I tercatat Rp14 ribu per kilogram dan bawah II Rp13.500 per kilogram.
Program gerakan pangan murah (GPM) menyediakan beras SPHP Rp57.500 kemasan 5 kg, minyak goreng Rp15 ribu per liter, daging sapi Rp140 ribu kg, daging ayam Rp54 ribu per 2 kg.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved