Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PULUHAN keluarga di Desa Girimulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang tinggal di lokasi tanah bergerak di bawah tebing setinggi 20 meter, enggan direlokasi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur Asep Suparman mengatakan total warga yang terancam tanah longsor sebanyak 97 KK.
Namun, baru 24 KK yang menyatakan kesiapan untuk pindah.
"Kami sudah imbau sejak beberapa bulan lalu. Namun, saat melihat kondisi per-gerakan yang semakin parah, mereka sadar bahaya besar bisa saja mengancam nyawa," kata Asep, kemarin.
Tebing di Desa Girimulya itu sebetulnya mulai retak sejak tahun lalu.
Tak hanya tebing, jalan desa juga mulai ambles akibat kontur tanah yang labil.
"Amblesnya sampai 15 meter," sambung Asep.
Tanah bergerak juga telah menyebabkan bertambahnya kerusakan rumah warga di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah.
Jika tiga hari lalu, jumlah rumah rusak sebanyak 26 rumah, kini menjadi 32 rumah.
Hingga kini, pihak BPBD masih terus melakukan persiapan relokasi warga ke Dusun Sinanjer di Clapar.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara Catur Subandrio mengungkapkan jumlah pengungsi juga bertambah menjadi 102 keluarga atau sebanyak 343 jiwa.
Tebing longsor setinggi 5 meter juga terjadi di Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (3/4).
Satu rumah rusak berat tertimbun tanah longsor.
Sementara itu, musibah banjir bandang juga merendam rumah milik 43 keluarga di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.
Dari Wonogiri, Jawa Tengah, dilaporkan, Jalan ambles sepanjang 25 m di jalur antarprovinsi Wonogiri (Jateng)-Pacitan (Jatim) melewati Kecamatan Kismantoro, berbahaya untuk dilewati.
Tiga kecelakaan lalu lintas menimpa pengendara sepeda motor di lokasi itu. (BK/LD/BB/WJ/N-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved