Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI sawit di kawasan Kabupaten Aceh Utara bisa tersenyum karena harga tandan buah sawit segar berpihak pada petani. Sejak empat hari terakhir di Kecamatan Matangkuli, Pirak Timur, dan Kecamatan Paya Bakong, harga buah bahan baku minyak goreng berkisar Rp1.350 hingga Rp1.400 per kg. Harga tersebut lebih tinggi dari dua bulan lalu yang hanya Rp1.100 hingga Rp1.200 per kg.
"Bahkan pekan lalu harga tandan buah sawit segar itu kami jual sempat mencapai Rp1.600 per kg. Tapi kini turun sedikit, mungkin karena biaya yang harus dikeluarkan tengkulak untuk ongkos angkut dari tempat pembelian mahal. Itu akibat kondisi bandan jalan yang cukup rusak setelah diguyur hujan berturut-turut," kata Teungku Zakaria, petani kebun sawit di Desa Matang Peusangan, Kecamatan Matangkuli, Jumat (2/10).
Dikatakan Teungku Zakaria, semangat petani sangat tergantung dari harga hasil panen. Bila harga tinggi, motivasi petani untuk merawat kebun juga meningkat. Tapi kalau saat dijual semakin anjlok, pemilik kebun sawit juga terancam merugi sehingga membiarkan tanaman sawit mereka tidak terawat.
Pihaknya berharap harga tersebut bisa naik lagi. Alasannya yaitu harga Rp1.400 per kg ini baru menyentuh keuntungan petani sekitar Rp800.000 per hektare (ha). Adapun siklus panen itu 15 hari sekali dengan besaran produksi 1,5 ton hingga 2 ton per ha. Jadi jumlah produksi setiap bulan berkisar 3 ton hingga 4 ton per ha.
"Besaran produksi per bulan 3 ton sampai 4 ton. Kalau tiap kali petik selama 15 hari keuntungannya Rp800.000. Dalam satu bulan mendapat keuntungan petani Rp1,6 juta per ha," tutur Teung Zakaria yang juga Imam Besar Masjid Matang Peusangan.
baca juga: Poktan Sejati Nagori Simalungun Belajar Pemupukan Berimbang
Menurut Zakaria, dengan naik harga sawit itu cukup bermakna terhadap kebutuhan ekonomi petani di tengah pandemi covid-19 sekarang. Karena mereka tidak ada harapan selai dari hasil perkebunan sawit atau laham sawah.
"Paling satu keluarga ada 1 ha hingga 4 ha kebun sawit. Atau hanya setengah ha lahan padi sawah" tambah Muhammad Ali, tokoh Masyarakat Matangkuli. (OL-3)
Dampak dari kondisi cuaca ini, kata dia, juga berpotensi terjadi gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter di perairan wilayah Aceh bagian barat dan selatan.
LAILATUL BARA'AH atau yang akrab disebut Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh dirayakan dengan penuh khidmat.
Selain pembersihan bangunan, personel juga melakukan normalisasi pada 42 hektare lahan terdampak agar dapat digunakan kembali oleh masyarakat.
Para mahasiswa ini akan melaksanakan berbagai program mulai 2-22 Februari 2026. Adapun pemberangkatan dilakukan dalam dua gelombang, pada 2 dan 11 Februari 2026.
Rapat konsolidasi membahas klaster infrastruktur, mencakup jalan, jembatan permanen, jembatan bailey, serta infrastruktur sungai seperti irigasi, daerah aliran sungai hingga sumur bor.
Barita mengatakan upaya hukum ini diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap penyebab bencana di Sumatra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved