Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Tambang Maluku Utara Bangkit Lagi

BR/N-3
18/3/2016 03:13
Tambang Maluku Utara Bangkit Lagi
(MI/Burhanuddin)

UNTUK pertama kalinya sejak UU No 4/2009 tentang Mineral dan Batu Bara diberlakukan, Maluku Utara mulai mengekspor bahan tambang, kemarin.

Sebanyak 10.400 ton feronikel produksi PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara diekspor ke Tiongkok, Kamis (17/3).

Ekspor perdana itu dilepas langsung oleh Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba dan Bupati Halmahera Timur Al Yasin Ali.

"Nilai total ekspor perdana ini mencapai US$6 juta (Rp78 miliar)," papar Komisaris PT Fajar Bhakti, Maria Chandra Pical.

Sejak Undang-Undang Minerba diberlakukan pada 12 Januari 2014, banyak perusahaan tambang di Maluku Utara yang tidak bisa beroperasi karena tidak mampu membangun smelter.

Namun, PT FBLN bergerak cepat membangun smelter pada 2014 di Desa Elfanun, Kecamatan Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah.

Smelter tersebut memiliki empat tungku untuk memproses bahan ore nikel mentah menjadi feronikel.

Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat menghadiri ekspor perdana itu.

"Sejak pertambangan mulai dilakukan di Maluku Utara pada 40 tahun lalu, baru kali ini ada perusahaan yang mengekspor langsung ke luar negeri. Apa yang dilakukan PT Fajar ini harus diberi apresiasi karena mereka sangat serius membangun smelter sesuai undang-undang," kata Kasuba.

Ia menilai adanya smelter PT Fajar Bhakti ini akan memberikan dampak positif bagi pendapatan daerah, juga membuka peluang tenaga kerja sehingga mengurangi angka penganguran.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara, lanjut dia, memiliki komitmen untuk memberi kemudahan bagi investor yang serius melakukan ivestasi, terutama di sektor pertambangan.

"Sebaliknya, kami juga sedang mempertimbangkan untuk mencabut izin beberapa perusahaan yang tidak membangun smelter."

Lebih jauh, Maria Chandar Pical menambahkan, dalam satu tahun, perusahaannya dapat memproduksi 100 ribu sampai 120 ribu ton fero-nikel, dengan estimasi setiap bulan menghasilkan 10 ribu ton.

Dari kandungan deposit yang ada, PT FBLN dapat melakukan kegiatan produksi hingga 20-30 tahun.

Kehadiran PT FBLN di Desa Elfanun terbukti membawa dampak positif bagi perekonomian daerah tersebut.

Selain yang bekerja langsung di perusahaan, banyak warga yang membuka usaha seperti pertokoan.

Sebelumnya, karena pemberlakukan UU Minerba, puluhan perusahaan yang melakukan kegiatan penambangan nikel di Pulau Gebe terpaksa tutup.

Akibatnya, ekonomi warga merosot karena banyak pengangguran.

"Kami telah menyerap 400 warga lokal di Kecamatan Gebe untuk tenaga non-skill. Kami sangat memprioritaskan warga lokal," lanjut Maria.

Perusahaan tersebut menargetkan dalam dua tahun ke depan bisa mengekspor 100 ribu-120 ribu metrik ton feronikel, dengan nilai ekspor mencapai US$80 juta. (BR/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya