Kamis 09 Juli 2020, 15:45 WIB

Harga Beras Anjlok, Petani Sigi Rugi

M Taufan SP Bustan | Nusantara
Harga Beras Anjlok, Petani Sigi Rugi

ANTARA/Adiwinata Solihin
Buruh tani membersihkan bulir padi di area persawahan di Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Senin (22/6).

 

HARGA beras di tingkat petani Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, anjlok. Petani pun harus menelan kerugian.  

Salah satu petani Nadra, 43, menyebutkan, rendahnya harga jual beras di tingkat petani sudah terjadi sejak musim panen pertama di awal tahun.  

Ia menyebut beras dengan berat Rp50 kilogram hanya dihargai Rp350 ribu oleh pembeli yang datang langsung ke penggilingan. Padahal sebelumnya, untuk beras berat Rp50 kg bisa mencapai harga jual Rp500 ribu hingga Rp650 ribu.  

"Ini untuk beras kualitas bagus seperti beras cinta nur dan santana rata Rp350 ribu per karung isi 50 kg. Kalau untuk beras lain seperti kepala, pandan wangi, dan lainnya bisa lebih murah," terangnya saat ditemui Media Indonesia di lahan pertanian Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kamis (9/7).  

Menurut Nadra, dengan harga jual Rp350 ribu per karung isi 50 kg tentu tidak seimbang dengan pengeluaran para petani di saat musim tanam tiba. Belum lagi, lanjutnya, banyak petani yang ketika musim tanam tiba harus berhutang kepada para tengkulak.  

"Ketika kami jual beras Rp350 ribu per karung isi 50 kg, pemodal pasti potong untuk bayar hutang. Jadi bersih bisa diterima itu Rp250 ribu per karung isi 50 kg," keluhnya.  

Ketua Kelompok Tani Harapan Jaya Muhammad Irwan mengatakan kondisi demikian  membuat banyak petani merugi. Pasalnya, biaya di saat masa tanam sangat besar.  Sementara jika tidak berhutang, petani akan kesulitan mengola lahannya.  

"Ini sudah menjadi dilema petani. Makanya tinggal pasrah saja. Dan berharap ada pemerintah yang bisa datang langsung membeli beras atau membantu modal untuk petani di desa," harapnya.  

Irwan menilai, jika pemerintah datang langsung membeli beras petani atau bahkan memberikan modal, petani di tingkat desa pasti bisa merasakan keuntungan.  

Baca juga: Pemprov Sulteng Kerja Ekstra Atasi Penyebaran TBC

"Sekarang harga beras murah itu kan permainan tengkulak. Nah, kami petani mau komplen seperti apa kalau banyak petani berhutang di tengkulak. Makanya butuh pemerintah untuk atasi ini," ujarnya.  

Irwan menjelaskan, hampir rata-rata petani di Desa Pakuli hidup dengan berutang ketika masa tanam. Hal itu terus mereka lakukan karena pengasilan habis untuk kebutuhan keluarga. Belum lagi harga pupuk yang terus mengalamim penaikan.

"Mau ambil uang pengolahan dari mana?. Tidak ada modal sendiri kebanyakan petani. Apa biasa tebar bibit, nanti dua bulan setelah masa panen, kita tentu juga sudah kepepet. Jadi tinggal ambil uang pengolahan, ambil Rp2 juta sampai Rp3 juta," tandasnya. (H-3)

Baca Juga

medcom

Kasus Positif Covid-19 di Klaten Tembus 2.001 Orang

👤Djoko Sardjono 🕔Minggu 06 Desember 2020, 07:58 WIB
Klaten menambah jumlah kasus positif sebanyak 28 orang sehingga jumlah akumulasi kasus positif menjadi 2.001...
Dok.MI

342 Tenaga Medis Gugur IDI Beri Peringatan

👤(Van/E-3) 🕔Minggu 06 Desember 2020, 05:55 WIB
TIM Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan dari Maret hingga Desember total 342 tenaga medis dan tenaga kesehatan...
heri susetyo

3M Amankan Pesta Demokrasi

👤HERI SUSETYO 🕔Minggu 06 Desember 2020, 05:50 WIB
SEUSAI subuh, sejumlah petugas sudah datang ke tempat pemungutan suara. Mereka menyemprot seluruh meja, kursi, peralatan, dan lantai dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya