Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Buoy tidak Lagi Memasok Data

Yose Hendra
07/3/2016 01:35
Buoy tidak Lagi Memasok Data
(ANTARA/Ampelsa)

DUA perangkat pendeteksi tsunami alias buoy di Sumatra Barat sejak 2011 sudah tidak memasok data ke Stasiun Geofisika, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Padangpanjang.

Kepala Stasiun Geofisika Padangpanjang Rahmat Triyono pun menganggap buoy itu sudah hilang.

"Sejak 2011, kehadiran buoy tidak dirasakan dalam sistem peringatan dini tsunami di Sumatra Barat. BMKG mengumumkan potensi tsunami saat gempa terjadi beberapa hari lalu, berdasarkan parameter yang dipasok dari seismograf dan akselerograf milik BMKG," papar Rahmat, di Padang, kemarin.

Seismograf berfungsi mencatat semua getaran dan kecepatan rambat gempa bumi, sedangkan akselerograf mencatat data getaran-getaran seismik secara digital seperti lokasi, waktu kejadian, kedalaman, dan kekuatan.

Dua alat itu, sebut Rahmat, menjadi parameter bagi BMKG mengeluarkan keputusan ada potensi tsunami.

"Kalau ada pasokan data dari buoy, kami bisa pastikan apakah akan terjadi tsunami atau tidak," tambahnya.

Bouy merupakan wahana pendeteksi tsunami terpenting, yang mengapung di permukaan laut.

Fungsinya untuk memberikan informasi level muka air laut ke pusat penerima di darat.

Ada dua buoy yang dipasang di perairan daerah itu.

Alat tersebut merupakan kerja sama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta pemerintah Jerman.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Barat Zulfiatno menolak disalahkan atas tidak berfungsinya alat deteksi tsunami itu.

"Kami tidak pernah dilibatkan dalam pengurusan buoy. Karena itu, tidak ada alokasi dana dari APBD untuk perawatan maupun perbaikannya."

Tidak berfungsinya alat seharga Rp3 miliar itu diduga menjadi sumber masalah semrawutnya informasi saat gempa berkekuatan 7,8 SR melanda Sumatra Barat, Rabu (2/3).

Informasi BMKG yang menyebutkan ada potensi tsunami disikapi dengan berbeda oleh pemangku kebijakan dan masyarakat.

Semua serbapanik, kacau, dan lalu lintas di Kota Padang macet total.

NTT belum punya

Meski pernah dilanda tsunami besar pada 1992 yang menelan korban ribuan jiwa, Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai saat ini belum memiliki alat deteksi tsunami.

Padahal, daerah itu berada tepat di pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Indo Australia, yang rentan bertumbukan dan menyebabkan gempa besar.

"Saat ini kami mengandalkan BMKG," tutur Kepala BPBD NTT Tini Thadeus.

Di Sukabumi, Jawa Barat, BPBD mengaku lebih siap menghadapi bencana.

BPBD Brebes, Jawa Tengah, sangat membutuhkan alat deteksi bencana untuk dipasang di sejumlah titik.

"Kami sudah memasang alat deteksi di sejumlah titik, tapi masih kurang. Pemerintah Jepang pernah menjanjikan bantuan, tapi sampai sekarang belum jelas," kata petinggi BPBD Brebes Budi Teo.

Kemarin, dari sejumlah daerah, banjir dilaporkan masih terjadi, di antaranya di Garut, Jawa Barat, Sidoarjo, Jawa Timur, dan beberapa wilayah di DAS Barito Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Di Cilacap, Jawa Tengah, angin kencang menjadi ancaman bagi tanaman padi. (PO/BB/JI/AD/HS/LD/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya