Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGANTRI hingga tiga jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak subsidi menjadi kenangan buruk bagi Hernawan Agus, 27 sopir angkot jurusan KM 5-Ampera. Pria kelahiran Palembang itu sudah lebih dari 7 bulan belakangan beralih menggunakan BBM subsidi premium menjadi BBM non subsidi jenis Pertalite. Kenangan buruk itu juga kini menjadi acuan bagi Agus untuk meninggalkan Premium.
"Kalau mau antri Premium, saya tidak bisa kejar setoran. Karena waktunya habis untuk hadapi antrian panjang,” ujar Agus ditemui di SPBU Pahlawan Palembang, Sabtu (5/10).
Meski harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli Pertalite namun setidaknya Agus mengaku bisa menghemat waktu dalam mengisi bahan bakar minyak untuk angkotnya. Bagi Agus, harga yang hanya berbeda sekitar Rp1.000 tidak begitu berimbas pada pendapatannya sehari-hari.
"Kalau terlalu lama antri Premium, saya kuatir penumpang akan bosan dan mengamuk. Beda kalau isi Pertalite, lebih cepat waktunya, jadi penumpang lebih nyaman," kata dia.
Agus yang sudah lebih dari 10 tahun menjadi sopir angkot mengaku dengan mengisi Pertalite banyak memberinya manfaat.
"Kalau mau memikirkan pengeluaran dan pendapatan, insya allah saya tidak memusingkan itu, karena rezeki sudah diatur Allah. Tapi memang dengan menggunakan Pertalite, mesin mobil angkot saya lebih terawat. Dan memang jujur, tarikan (performa mesin) lebih enteng," ujar dia.
Serupa dengan Agus, hal yang sama juga dirasakan Mahmud, 41, sopir jurusan Lemabang-Ampera mengaku sudah beralih menggunakan bahan bakar minyak Pertalite sejak 4 bulan belakangan.
"Jangan tanya soal harga, kan tidak beda jauh. Tidak masalah. Yang penting tidak perlu antri di malam hari, dan antrinya tidak panjang," jelasnya.
Ia mengaku, memang belum banyak sopir yang melakukan hal yang sama. Namun ia sudah berulang kali memberikan informasi terkait itu kepada sopir yang lain.
"Yang saya ceritakan kepada sopir lain itu kalau pakai Pertalite, memang menambah pengeluaran sedikit. Tapi tidak perlu lebih sering ke bengkel, karena mesin mobil lebih bagus kalau pakai Pertalite," jelasnya.
Diakui Mahmud, ia beralih menggunakan Pertalite juga karena adanya kebijakan dari pemerintah.
"Banyak SPBU di Palembang sekarang sudah tidak menjual Premium lagi. Awalnya dulu saya juga teriak-teriak karena merasa berat. Tapi alhamdulillah sekarang menjadi terbiasa karena efek dari penggunaan Pertalite yang sudah saya rasakan sendiri," kata dia.
Sementara itu, Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat Kota Palembang, Sunir Hadi menuturkan, dari 1.500 unit angkot yang ada di Palembang memang belum banyak sopir yang mengisi BBM nonsubsidi untuk angkotnya. Mungkin baru berkisar 10 persen saja.
"Mereka (sopir) mau isi BBM subsidi atau nonsubsidi itu adalah hak mereka sendiri. Kita hanya mengimbau jika bisa menggunakan BBM nonsubsidi agar mesin kendaraan lebih baik," jelas Sunir.
Pihaknya tidak memaksakan pemilihan BBM kepada para sopir angkot di Palembang.
"Mereka yang tersadar baiknya menggunakan BBM nonsubsidi memang ada dan banyak, namun memang belum semuanya, karena itu kesadaran dari masing-masing sopir," jelasnya.
Menggunakan BBM subsidi ataupun nonsubsidi juga tidak berimbas pada tarif masing-masing jurusan angkot.
"Mau jauh atau dekat, dewasa tetap ditarifkan Rp4.000 per orang dan anak sekolah Rp2.000 per orangnya," ungkap dia.
Dalam imbauan kepada sopir angkot, pihaknya kerap mengkampanyekan manfaat yang didapat jika menggunaan BBM nonsubsidi. Di antaranya dengan menggunakan BBM nonsubsidi, mesin lebih terawat, tarikan lebih enteng dan juga ramah lingkungan.
“Harganya juga kan tidak selisih jauh. Jadi insya allah, tidak memberatkan sopir. Tapi sopir tidak perlu sering mendandani mesin mobilnya yang pasti," jelasnya.
Sementara itu, Region Manager Communication & CSR Pertamina Sumbagsel Rifky Rachman Yusuf kepada wartawan ini mengatakan, Pertamina tetap konsisten dalam penyaluran BBM subsidi dan BBK (bahan bakar khusus). “Penggunaan BBK saat ini memang meningkat, bahkan meroket, itu berkat kesadaran masyarakat Palembang dan sekitarnya dalam menggunakan bahan bakar minyak non subsidi,” jelasnya.
Berdasar data perseroan, pada Agustus 2019 ini jumlah konsumsi rata-rata per bulan untuk Pertalite sebanyak 50.126 kiloliter, sementara pada Agustus 2018 mencapai 45.800 kiloliter. Artinya dari tahun lalu terjadi peningkatan jumlah konsumsi Pertalite pada tahun ini. Sementara untuk Premium, pada Agustus 2019 konsumsinya sebesar 20.278 kiloliter per bulan. Sementara pada Agustus 2018 konsumsinya sekitar 18.883 kiloliter.
Rifky menyebutkan, perseroan tidak pernah lelah mengkampanyekan kepada masyarakat perlu dan pentingnya beralih menggunakan BBK daripada BBM subsidi.
"Kita tidak menyebut bahwa Premium atau Solar itu jelek untuk mesin, namun memang BBK seperti Pertalite, Pertamax, Pertamina Dex dan lainnya itu memiliki oktan yang tinggi. Sehingga dapat meningkatkan performa mesin dan menjaga ketahanan mesin," kata Rifky.
Disamping itu, dengan BBK juga pembakaran pada mesin kendaraan akan lebih sempurna, sehingga tidak menimbulkan asap yang bisa menjadi polusi bagi udara. Ia menegaskan, emisi atau zat buangan yang dikeluarkan oleh mobil yang menggunakan Pertalite lebih sedikit dari emisi mobil yang menggunakan bahan bakar minyak Premium.
"BBK ini mampu memberikan tenaga lebih besar pada mobil, penggunaannya pada mobil dianggap lebih efisien dibanding dengan penggunaan Premium. Selain itu, penggunaan BBM Pertalite akan memberikan dampak torsi yang lebih besar dibanding dengan menggunakan BBM Premium,” jelasnya.
Dari sisi akselerasi atau percepatan pada laju kendaraan, kata Rifky pun sangat berbeda.
"Kendaraan yang menggunakan Pertalite dapat mengalami percepatan yang lebih besar dibanding dengan mobil yang menggunakan Premium," terang dia.
Ia menyebut, Pertamina juga konsisten membantu pemerintah dalam mengurangi beban subsidi dari upaya peralihan penggunaan BBM subsidi ke BBK.
"Harapan kita, dengan adanya kesadaran masyarakat beralih menggunakan BBK, maka beban subsidi pun akan berkurang," jelasnya.
Meski demikian bukan berarti Pertamina mengurangi pasokan BBM. Dijelaskan Rifky, pasokan BBM tetap dialokasikan sesuai dengan kuota dari pemerintah.
"Kita tidak mengurangi pasokan, BBM yang kita distribusikan sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat. Prinsipnya Pertamina menyalurkan apa yang sudah dikuotakan," jelasnya.
baca juga: Alpeda Sinaga Daftar Calon Walikota di NasDem Pematangsiantar
Oleh karena itu, SPBU yang menyediakan BBM subsidi diatur oleh pemerintah bersama DPR, BPH Migas dan Hiswana Migas. Dalam penerapannya, lanjut Rifky, pemilihan SPBU penyedia BBM subsidi yakni dipilih jalur yang banyak membutuhkan. Dengan jarak yang tidak begitu berdekatan antara SPBU yang satu dan yang lainnya.
Rifky menyebut di Kota Palembang saat ini ada 36 SPBU. Dari jumlah itu, 15 SPBU di antaranya masih menyediakan BBM Premium untuk masyarakat. (OL-3)
Sebagai tambahan layanan darurat, Pertamina juga menyiagakan layanan motoris yang bertugas membantu pengendara yang mengalami kehabisan bahan bakar di tengah kemacetan.
PT Pertamina Lubricants (PTPL) menghadirkan berbagai program Ramadan & Idulfitri (RAFI) 2026 dengan tema “Energi Berbagi, Menjaga Setiap Perjalanan.”
Pertamina merupakan korporasi besar yang memiliki sistem dalam mengambil keputusan bisnis, termasuk ketika menjalin kerja sama dengan pihak lain.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memastikan bahwa kondisi stok energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan LPG, tetap berada pada tingkat yang mencukupi.
Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) telah beranjak dari kawasan sekitar Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah Timur Tengah.
Dewan Komisaris dan Direksi Pertamina meninjau operasional di PHR Rokan dan PGN Medan untuk memastikan produksi migas serta distribusi energi tetap aman selama Ramadan dan Idulfitri.
Pemerintah tengah menyiapkan langkah antisipatif dengan mencari alternatif sumber impor minyak mentah selain dari kawasan Timur Tengah.
Bahlil mengatakan pemerintah saat ini sedang melakukan berbagai simulasi atau exercise untuk menyiapkan sejumlah opsi kebijakan.
Diduga kuat terjadi praktik pengisian BBM menggunakan jeriken dalam skala besar yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, yakni tengah malam dan subuh.
Potensi tersebut menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam menghadapi situasi dunia yang penuh ketidakpastian dan krisis.
Penurunan produksi di tiga negara pertama sekitar seperlima dari total produksi Januari mereka, dan di Irak mencapai 70%, menurut laporan tersebut.
Tanpa aliran minyak ini, rantai pasokan global akan terganggu parah. Dengan pasokan yang terbatas dan permintaan yang meningkat, harga kemungkinan akan naik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved