Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Andalkan Debit Bengawan Solo, Ribuan Petani di Tuban Tanam Padi

M Yakub
26/6/2019 12:45
Andalkan Debit Bengawan Solo, Ribuan Petani di Tuban Tanam Padi
Para petani sedang memupuk tanaman padi.(ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)

RIBUAN petani di lima kecamatan sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bersiap menamam padi pada musim kemarau. Saat ini, ribuan petani di Kecamatan Plumpang, Soko, Rengel, Widang dan sebagian kecil di Kecamatan Parengan tengah menyiapkan lahan.

Mereka tidak khawatir bakal mengalami gagal panen saat puncak kemarau mendatang. Sebab, kebutuhan air masih tercukupi dengan adanya sistem irigasi teknis dari sungai Bengawan Solo.

Suplai air untuk ribuan hektare lahan di kawasan ini diperoleh melalui kelompok Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) yang sengaja dibentuk di sepanjang Bengawan Solo. Terlebih, hingga saat ini, debit air pada Bengawan Solo masih cukup melimpah.

"Kami tidak khawatir tanaman gagal panen karena kekurangan air. Sebab, kebutuhan air tercukupi dari Bengawan Solo melalui HIPPA," ungkap petani Desa Plumpang Sumantri, Rabu (26/6) pagi.

Dengan HIPPA, kata dia, kebutuhan areal pertanian tercukupi sejak petani mengolah lahan hingga padi siap panen.

"Tapi, saat ini kita sedang mengolah lahan dan menyiapkan benih," ujarnya.

Menurutnya, kerja sama antara petani dan pengeloa HIPPA dengan ketentuan bagi hasil saat panen. Untuk HIPPA yang mensuplai air hingga panen pada petani, meminta bagian seperempat dari total hasil panen petani.

"Jadi misalnya kalau kita panen dua ton, HIPPA mendapat jatah 5 kuintal gabah," terangnya.

Hal itu berlaku bagi ribuan petani sepanjang kawasan Bengawan Solo di kabupaten setempat, yakni mulai dari Kecamatan Plumpang, Rengel, Soko, Widang dan sebagian Kecamatan Parengan.

Baca juga: Wagub Jatim Susuri Bengawan Solo di Bojonegoro

Sementara, bagi lahan irigasi teknis lainnya yang terlalu jauh dari aliran sungai Bengawan Solo, kebutuhan air terpenuhi dengan adanya sumur bor. Sistem yang diterapkan pemilik sumur pompa juga relaif sama dengan model pengaturan air oleh HIPPA.

Hanya saja, sumur-sumur pompa itu rata-rata dikelola oleh pemilik lahan yang sengaja menyediakan bagi masyarakat sekitar. Sumur pompa ini rata-rata tersebar di wilayah utara kabupaten setempat. Di antaranya, bagian utara Kecamatan Plumpang, sebagian di Kecamatan Widang, Soko, Parengan, Rengel dan Palang.

Salah satu pengelola sumur bor di Desa Cendoro, Kecamatan Palang, Murtaji, mengatakan, dengan adanya sumur bor di kawasan tersebut membuat petani di sana bebas menamam tanaman apapun yang mereka kehendaki.

Bahkan, para petani juga tidak khawatir tanaman puso saat puncak kemarau. Sebab, suplai air dan volume air pada sumur-sumur sudah teruji selama bertahun-tahun. Sedangkan, sistem kerja sama dilakukan dengan cara bagi hasil yang saling menguntungkan.

"Bagi hasilnya, kita dapat seperempat dan sisanya petani. Sehingga, kalau pun waduk sudah kering petani tidak khawatir lagi. Kebutuhan air sudah tercukupi," tutur Murtaji.(OL-5)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya