Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
INFORMASIi gempa bumi Solok Selatan, Sumatra Barat yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) dinilai kurang valid. Kesalahan pertama adalah informasi soal episentrum yang berbeda dengan peta yang dibeberkan.
Kesalahan lain menurut Koordinator Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatra Barat Ade Edward, adalah soal pusat (segmen) patahan sebagai episentrum gempa.
Terkait soal lokasi gempa, berjarak 5 detik dari kejadian gempa berkekuatan 5.6 SR yang terjadi pukul 06.27, BMKG mengeluarkan informasi bahwa gempa berpusat 38 km Timur Laut Pasaman (utara Sumatra Barat). Kedalamannya 10 km.
Kemudian dimutahirkan pada pukul 07.18 WIB, dengan menyebutkan gempa bumi tersebut mengguncang wilayah Solok Selatan, dengan pusat 36 km arah timur laut Kota Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan. Kedalamannya sama-sama 10 km. Kekuatan gempa juga dimutakhirkan menjadi 5.3 SR.
Sebagaimana hal yang disampaikan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam rilisnya, gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Solok Selatan ini, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, merupakan jenis gempa bumi tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang terjadi akibat aktivitas Zona Sesar Sumatera (Sumatera Fault Zone) tepatnya pada pertemuan segmen Suliti-Siulak (bagian patahan Sumatra).
Baca juga : Korban Luka-luka Gempa Solok Sudah Mencapai 48 Orang
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar mendatar (Strike-Slip)," ujar Ade
Menurut Ade, episentrum gempa tersebut tidak masuk dari simpul patahan Sumatra.
"Dimana mungkin bertemu dengan lintasan segmen Siulak dengan Suliti.Pusat gempa di Sungai Kunyit jauh di luar zona Patahan Sumatra," terang mantan Koordinator Pusdalops PB BPBD Sumatra Barat ini.
Peta patahan Sumatra, katanya, sudah jelas, bisa dilihat di buku karangan K. Sieh dan D. Hilman Natawijaya dengan judul Neotectonic of Sumatran Fault, tahun 2000. Atau Peta Bahaya Gempa Bumi Provinsi Sumatera Barat, UNDP, SC-DRR, Pemprov. Sumatera Barat, PT Waindo Specterra, 2011.
"Sebaiknya BMKG mengeluarkan rilis kegempaan memiliki rujukan kajian ilmiah yang valid," tukasnya. (OL-8)
PT Kereta Api Indonesia II Sumatera Barat (Sumbar) mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sekitar jalur rel, termasuk kegiatan menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit.
PEMERINTAH Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) menegaskan penertiban aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di wilayah Sumbar masih berjalan melalui kerja tim terpadu lintas sektor.
PEMERINTAH pusat telah menyiapkan total anggaran sebesar Rp2,6 triliun untuk Sumatera Barat (Sumbar), untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana.
Kemeninves sampai Danantara diyakini bisa menjadi jalan keluar terbaik untuk mengelola lahan perkebunan sampai pertambangan ini.
Barita mengatakan upaya hukum ini diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap penyebab bencana di Sumatra.
Pembangunan huntara dilakukan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatra. Rinciannya, sebanyak 16.282 unit huntara dibangun di Aceh, 947 unit di Sumatra Utara, dan 618 unit di Sumatra Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved