Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMPAH bila dikelola dengan baik bisa memberi nilai tambah ekonomi. Seperti itulah yang dilakukan Pemkab Bandung Barat yang saat ini membangun alat pembakar sampah (insinerator) ramah lingkungan. Melalui kerja sama dengan ahli dari Institut Teknologi Bandung, abu sisa pembakaran sampah bisa dimanfaatkan untuk dijadikan batako, kompos, dan beton.
Sebagai langkah awal, Pemkab Bandung Barat menunjuk wilayah Lembang sebagai pilot project atau tempat percontohan pengelolaan sampah tanpa asap ini yang kemudian bisa diikuti di wilayah lainnya.
Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna mengharapkan, dalam dua bulan ke depan, alat pembakaran sampah tanpa asap itu beres dibangun.
“Kami punya target satu atau dua tahun ke depan, Bandung Barat bisa bersih dari sampah,” kata Aa Umbara seusai peletakan batu pertama pembangunan insinerator di Desa Gudang Kahuripan, Lembang, Kamis (18/1).
Jika itu sukses, Pemkab Bandung Barat akan menambah empat titik pengolahan sampah lainnya di Lembang. Aa Umbara menyatakan pembangunan satu alat pengolahan sampah membutuhkan dana Rp400 juta.
“Nanti diharapkan bisa dibangun di wilayah lainnya. Ini dananya semua berasal dari corporate social responsibility (CSR) perusahaan atau bantuan dari pihak ketiga yang tak mengikat,” bebernya.
Meski begitu, Aa Umbara sangat mendukung jika di setiap desa bisa dibangun satu insinerator seperti ini untuk mengurangi produksi sampah sekaligus menambah penghasilan desa. “Sampah dibakar, sesudahnya jadi abu, lalu bisa dibuat batako, beton, atau kompos. Jadi, seluruhnya bisa dimanfaatkan masyarakat dan menghasilkan dana bagi desa,” ujarnya.
Pembuat insinerator, Hengki Rahardjo, pada kesempatan itu mengungkapkan alat pengolahan sampah yang dinamakan HK-2010 itu bisa menghancurkan segala jenis sampah baik organik maupun anorganik.
Dia menjelaskan alat tersebut dapat mengolah hingga sebanyak 1 ton sampah yang dimasukkan ke mesin hingga hancur, dan hanya tinggal menyisakan sekitar 1 kilogram sisa abu.
“Sudah diuji coba di Tamansari Bandung, Mamuju, dan Majene. Hasilnya 90% sampah tereduksi. Bahan bakar alat pengolahan sampah itu menggunakan gas elpiji, tapi karena di desa banyak kotoran sapi, jadi bahan bakarnya bisa dengan biogas dari kotoran sapi tersebut,” ungkapnya.
Produk-produk olahan dari sampah organik maupun nonorganik itu bisa menambah nilai ekonomi bagi masyarakat. “Selama ini sampah belum dikelola maksimal dan bernilai ekonomi. Hanya dibuang begitu saja. Belum dikelola menjadi kompos, batako, atau beton,” terang Hengki.
Untuk mengoperasikan insinerator, lanjut Hengki, dibutuhkan tiga orang atau lebih. Masing-masing bertugas untuk mengoperasikan, memelihara, dan merawat alat. “Nah, yang mengelola bisa dari pihak desa,” tambahnya.
Penggunaan insinerator tanpa asap itu diharapkan bisa memecahkan problematik pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung Barat. (Depi Gunawan/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved