Jangan kaget, jika kelak ayam goreng†khas kuliner daerah pun mendunia. Jangan heran, kalendar kejuaraan dari daerah-daerah bakal menjadi trending topic di dunia internasional. Jangan terharu, jika brand Wonderful Indonesia sanggup bersaing di pasar global dan membungkam rival terdekatnya, Malaysia dan Thailand?
Apa sih mimpi terbesar yang menjadi generator pembangkit energi Menteri Pariwisata Arief Yahya saat ini? Apa yang sedang dia pikirkan untuk membuat pariwisata mampu mengatasi ketertinggalan oleh tetangga sebelah, Malaysia dan Thailand? Dengan modal apa, dengan cara apa, dengan logika apa, dengan pendekatan apa, dia sanggup “menyalip di tikungan†dan menjadi pemenang di kawasan ASEAN? Dari arena World Travel Market (WTM) 2015 London, Arief Yahya semakin mempertegas garis visi dan aksinya: Pariwisata harus menjadi back bone (tulang punggung, red) ekonomi bangsa, dengan target wisman 20 juta di penghujung tahun 2019. Harus dobel, bahkan lebih, dan tidak bisa tidak.
"Itu mimpi saya. Itu imaginasi saya. Itulah great spirit saya, sumber energi yang membuat saya terus berlari sampai tercapai," aku Mantan Dirut PT Telkom ini. Yang dia tempatkan di ruang "I" atau imaginasi adalah target dubel dari capaian saat ini, dan mengalahkan rival-rivalnya, yang sudah sukses lebih dahulu. Devisa Malaysia dari pariwisata tahun 2013 sudah tembus US$21 miliar pada 2014 jumlah wisman sudah tembus 27 juta. Devisa Thailand dari tourism tahun 2013, sudah US$42 miliar.
"Indonesia masih US$10 miliar atau setengahnya dari Malaysia, dan seperempatnya Thailand. Ini kenyataan pahit yang harus kita terima saat ini. Kita genjot sampai 100% pun, hitungan di atas kertas, belum tentu bisa menyaingi mereka. Tapi, keyakinan saya itu melebihi tantangan yang ada di depan mata. Saya yakin betul," aku Menpar.
Itu adalah tantangan eksternal, yang ujungnya adalah kemampuan mendownload lebih banyak jumlah wisman ke tanah air. Menpar memang gemar menggunakan standar sukses orang lain, sehingga selalu menancapkan target dengan outworld looking. Tetapi di internal sendiri, dia juga menyimpan sumber energi baru, untuk menaikkan level pariwisata, sebagai penghasil devisa negara terbesar, melampaui oil and gas (minyak dan gas bumi), coal (batubara), crude palm oil (minyak kelapa sawit).
Tahun 2014, Oil and Gas menyumbang US$23 miliar disusul Coal US$16 miliar, dan CPO US$ 13miliar. Pariwisata masih jauh, dengan US$8,2 miliar. "Kalau 20 juta wisman masuk 2019, sudah hampir pasti, pariwisata menjadi leading sector yang paling konkret, paling mudah, dan menggerakkan ekonomi masyarakat lebih dahsyat. Saya bukan tidak pernah membuat target double ketika menjadi Dirut Telkom, dan atmosfer dan suasananya sama dengan saat ini ketika mencanangkan target double. Saya ditertawakan banyak orang. Dalam dua tahun, 2013-2014, target kapitalisasi Rp300 triliuan dari Rp150 triliun tercapai," jelas Arief Yahya.
Lalu dengan cara apa? Melompat di target double itu? "Digitalize! Ya, digitalisasi. Saya akan kejar dengan digital di semua lini. Ya marketing, ya organizing, ya controling, ya promotion, ya penyiapan back end, dan semuanya aktivitas kreatif, berbasis pada teknologi informasi. Hanya dengan cara ini, saya akan mengubah peta pariwisata dunia, dan Indonesia tertanam kuat di sana," ungkap Arief Yahya di yang makin menyala-nyala setelah bertemu tim Trip Advisor di London.
Digitalisasi dengan mengandalkan Teknologi Informasi, kata dia, adalah alat untuk mencapai tujuan. Bukan tujuan itu sendiri, tetapi hanya sebagai platform untuk menuju cita-cita besar itu. "Kami sudah identifikasi, selain 3 great (Bali, Jakarta, Batam), kami juga mengembangkan 10 prioritas pariwisata nasional, yakni Danau Toba-Sumut, Belitung-Babel, Tanjung Lesung-Banten, Pulau Seribu-DKI, Borobudur-Jateng, Bromo-Jatim, Mandalika-NTB, Morotai-Malut, Labuan Bajo-NTT, Wakatobi-Sultra. Itu terus kami dorong untuk cepat menjadi destinasi unggulan, setelah 3 great," jelas Menpar yang makin gencar bermain di digital. (R-1)