Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
NOSTALGIA kejayaan masa naik kereta api sepanjang 100 kilometer Semarang-Rembang, Jawa Tengah sepertinya kembali terujud. Jalur kereta api yang melintasi beberapa daerah itu telah cukup lama mati suri bakal dihidupkan lagi menjadi jalur potensial antar daerah.
Pemantauan Media Indonesia, Kamis (30/8), suasana bekas stasiun kereta api di Kecamatan Sayung, Demak sudah berubah fungsi sebagai tempat usaha bengkel. Pandangan bekas stasiun pemberhentian juga sudah tidak terlihat lagi dan hanya menyisakan tembok kusam di samping bangunan pasar tradisional di jalur pantura Semarang-Demak.
Bekas rel kereta api yang mulai hidup sejak 1900 dan ditutup pada 1975 juga sudah tidak terlihat lagi tertutup oleh bangunan dan jalan pantura. Pemandangan ini juga terlihat sama dengan stasiun dan rel di daerah lain seperti Semarang, Demak, Kudus, Pati dan Rembang.
"Ditutupnya jalur rel itu alasannya sama karena kalah bersaing dengan moda transpotasi angkutan darat yang cukup pesat kemajuannya," kata seorang sumber.
Setelah puluhan tahun mengalami mati suri, jalur kereta api Semarang-Rembang akan jembali dihidupkan lagi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana melakukan reaktivasi jalur tersebut pada 2023 mendatang, hal ini tentu menimbulkan berbagai komentar baik yang pro maupun kontra.
Ada ribuan warga yang telah cujup lama tinggal dan mengais rezeki dengan membuka usaha di sepanjang bekas jalur kereta api itu harap-harap cemas akan kelangsungan hidup mereka, jika terpaksa harus hengkang atau tergusur dalam reaktivasi kembali kereta api di jalur pantura Sematang-Surabaya ini.
Kepala Seksi Perkerataapian Dishub Jawa Tengah Fajar Rahmat menyatakan reaktivasi jalur rel Semarang-Rembang ini menjadi prioritas untuk dikerjakan dan proyek ini sudah bisa dimulai sebelum 2023.
Penghidupan kembali jalur jereta api Semarang-Rembang, ujar Fajar, dirasakan cukup penting untuk memenuhi kebutuhan transpotasi antardaerah karena untuk mengurangi beban jalur pantura yang semakin padat.
"Para kepala daerah yang terlintasi jalur juga mendesak agar reaktivasi kereta api segera dilaksanakan," imbuhnya.
Untuk menghidupkan kembali jalur itu, lanjutnya, tahap pertama reaktivasi jalur rel akan dilaksanakan dari Semarang - Pati kemudian dilanjutkan di tahap kedua dari Pati-Rembang. Saat ini proyek tersebut masih memasuki tahap pembahasan Detail Engineering Desain (DED) dari Kementerian Perhubungan.
Pengamat transpotasi dari Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang Djoko Setijowarno secara terpisah menyambut baik rencana pengaktifan angkutan massal di halur pantura tersebut, karena selain mengurangi dampak beban dan kepadatan di jalur pantura juga dapat mempercepat proses angkutan barang dan orang antar daerah.
Ditanya tentang kesulitan dihadapi akibat telah hilangnya jalur lama karena situasi pembangunan. Menurut Djoko hal itu tidaklah bermasalah besar karena aktivasi halur kereta api itu tidak mesti menggunakan jalur lama yang sudah sebagian besar hilang tergerus kebutuhan lain.
"Tidak mesti menggunakan trace lama, seperti pada reaktivasi jalur kereta api Purwokerto - Wonosobo 70% trace baru dan hanya 30% yang lama," kata Djoko Setijowarno. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved