Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PRIA paruh baya bertelanjang dada tekun melihat helai demi helai daun tanaman cabai yang ada di depannya. Terik matahari tidak menyurutkan pria tersebut memeriksa tanaman cabainya. Matanya tetap fokus menatap seluruh tanaman cabai yang tumbuh di atas tanah seluas 2 hektare itu.
“Ini pekerjaan saya setiap hendak panen. Saya harus mengecek apakah ada hama yang menyerang tanaman cabai,” ujar pria bernama Suparmin, petani cabai di Desa Natai Raya, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Jumat (20/4).
Transmigran asal Solo, Jawa Tengah, berusia setengah abad itu bungah melihat hamparan pohon cabainya tumbuh subur.
Apalagi varitas cabai ditanam ialah jenis cabai sigantung yang harganya cukup tinggi, Rp50 ribu per kilogram. Suparmin menjelaskan sebelum menjadi petani cabai, ia pernah melakoni sebagai pekerja bangunan hingga petani penggarap. “Namun, semua hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga,” kata Suparmin.
Perubahan nasib mulai dirasakan Suparmin pada 2015, ketika pemerintah daerah melakukan pendampingan dan bantuan kepada petani. Berbekal belajar dari penyuluh pertanian yang dikirim pemerintah, ia menanam sekitar 36 ribu batang pohon cabai atau sekitar 18 ribu pohon per hektare.
“Hitungannya dalam beberapa kali panen selama sebulan total menghasilkan 28 kuintal cabai per hektare. Kalau lahan 2 ha, cabai yang bisa dipetik dapat mencapai 56 kuintal.” Dengan asumsi biaya produksi per 1.000 pohon Rp5 juta, maka selama sebulan saat panen di lahan 2 ha akan menghasilkan 56 kuintal cabai dengan harga jual Rp50 ribu per kilogram. Penghasilan Suparmin selama sebulan pun bisa mencapai Rp280 juta. Angka yang sangat besar bagi seorang petani cabai
“Lumayan lah bisa untuk membantu anak kuliah di Jawa dan memenuhi kebutuhan di rumah,” ujar kakek dua cucu itu merendah. Suparmin bersama 24 petani mendirikan Koperasi Sumber Makmur. Ia pun terpilih sebagai ketua koperasi. Dengan lahan seluas 16 hektare, para anggota koperasi mengembangkan tanaman cabai skala besar dan kebun jagung. Untuk membantu pengembangannya, kelompok tani itu akan dibantu Bank Indonesia Kalimantan Tengah.
Wuryanto, perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, saat meninjau kebun milik kelompok tani pimpinan Suparmin, mengatakan dalam waktu dekat ini pihaknya akan memberikan bantuan yang dibutuhkan petani. “Selain membantu bibit, kami akan meneruskan pendampingan yakni mengenai cara mengelola keuangan secara sederhana,” ujarnya.
Cara pengelolaan uang secara sederhana ini perlu diberikan karena ia melihat problem yang dihadapi petani, baik itu petani cabai, karet, maupun kopi ialah masih bergantung pada tengkulak akibat ketiadaan modal. “Akibatnya yang menentukan harga bukan petani, melainkan para tengkulak. Ini yang harus kita balik,” tegasnya. (Surya Sriyanti/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved