Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Berfoto Dahulu, Menolong Kemudian

03/12/2017 09:15
Berfoto Dahulu, Menolong Kemudian
(MI/ARDI)

PULUHAN orang berdesak-desakan masuk ke Dukuh Sompok, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Jumat (1/12). Mereka berasal dari luar dusun, sengaja datang ke Dukuh Sompok untuk memberikan bantuan sosial. Dusun itu terparah dalam bencana banjir pada Selasa (28/11).

Tidak hanya kelompok atau instansi yang berkerumun dan memenuhi jalanan Dusun Sompok. Puluhan mobil yang masuk ke wilayah itu pun ikut berdesakan. Jalan yang sempit itu tidak mampu menampung puluhan mobil yang masuk membawa bantuan sosial.

Sementara warga dan petugas masih bekerja bakti membersihkan banjir dan lumpur, rombongan pemberi bantuan sosial sibuk berfoto-foto di tengah bekas banjir.

"Ayo foto-foto dulu. Harus kelihatan sungainya yang meluap," kata salah seorang dari organisasi sosial mengajak teman-temannya berfoto.

Tidak hanya satu kelompok yang swafoto. Kelompok lainnya tidak ketinggalan ikut berfoto. Jadwal berfoto semakin panjang manakala ada kelompok atau instansi yang wajib berfoto saat memberikan bantuan. "Ini buat bukti kalau sudah sampai di lokasi. Bantuan sudah diberikan," kata Bambang dari organisasi sosial dalam menanggapi banyaknya orang berfoto di lokasi bencana.

Polisi yang mengatur arus lalu lintas justru meminta kendaraan yang melintas disuruh berhenti agar kegiatan berfoto di lokasi bencana tidak terganggu.

Sejumlah wartawan yang sedang meliput di Dusun Sompok sempat dilarang melintas karena masih ada kegiatan foto-foto di lokasi bencana. Setelah kegiatan sosial itu selesai, puluhan orang itu meninggalkan Sompok. Tidak ada yang berinisiatif ikut kerja bakti. Warga setempat masih berjibaku membersihkan rumah dari lumpur banjir.

Kegiatan foto-foto di tengah bencana menjadi tren saat ini. Sosiolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Arie Sudjito menyebut perilaku foto-foto atau merekam di daerah bencana menunjukkan hilangnya sensitivitas. "Seharusnya tidak perlu berfoto-foto di daerah bencana. Itu bisa menyakiti warga yang mengalami bencana," kata dia.

Dia menambahkan saat ini kecenderungan orang mengutamakan kepentingan individu agar dilihat orang. "Sekarang banyak yang bergerak cepat (menuju lokasi kejadian bencana) tujuannya untuk apa? Untuk dibagikan foto atau video. Kadang saat dibagikan, mereka kehilangan sensitivitas terhadap yang dihadapi saat itu," kata Arie.

Ia mencontohkan, dalam kejadian sehari-hari, ketika terjadi kecelakaan atau perkelahian, orang lebih mementingkan memotret atau merekam kejadian daripada langsung membantu.

Fenomena itu disebut sebagai pergeseran atau distorsi sosial.
Sering kali individu merekam atau memotret kejadian sebagai tindakan kehilangan makna. Diakuinya, dengan perkembangan teknologi informasi, orang bisa sangat cepat membagi informasi. "Namun tanpa diimbangi dengan dimensi etis kemanusiaan, nilai sosial yang dilakukan menjadi bergeser," tambahnya.

Ia menyebut kampanye untuk memahami dimensi etika saat di tempat bencana harus terus disampaikan. "Dalam artian, keteladanan dan contoh dimensi etika harus diberikan dan dihidupkan di warga, komunitas, dan keluarga," tambahnya. (Ardi Teristi Hardi/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya