Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Mulusnya Sabuk Merah di Batas Negara

Palce Amalo
20/10/2017 08:24
Mulusnya Sabuk Merah di Batas Negara
(Truk penyangkut BBM melintas di Jalan Timor Raya yang menghubungkan Kota Kupang di barat hingga Atambua dan Motaain di perbatasan Indonesia-Timor Leste, beberapa waktu lalu---ANTARA/Yudhi Mahatma)

PEMBANGUNAN ‘sabuk merah’ atau ruas jalan lingkar luar perbatasan sepanjang 114,9 kilometer terus berlanjut. Ruas jalan itu menyusuri perbatasan Kabupaten Belu dan Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan Timor Leste.

“Ruas jalan yang sudah dibangun terlihat mulus dengan lebar 12 meter,” kata Kepala Bidang Penegasan Batas Daerah Badan Pengelola Perbatasan Nusa Tenggara Timur Clementino Branco di Kota Kupang, beberapa waktu lalu.

Ruas jalan itu berawal dari Motamasin di Kabupaten Malaka melintasi Laktutus-Henes-Turiskain-Salore dan berakhir di Motaain, Kabupaten Belu.

Berikutnya, dilanjutkan pembangunan ruas Amol-Oehose-Manufono-Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Lalu, pembangunan jalan di Kabupaten Kupang yang dimulai dari Oepoli dan berakhir di Fainake, Kecamatan Bikomi Utara, Timor Tengah Utara.

Menurut Clementino, pembangunan infrastruktur jalan memberikan akses bagi warga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan negara, memperlancar distribusi bahan pangan, arus lalu lintas, serta akses bagi anggota TNI yang mengawal perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Pembangunan ruas sabuk merah itu juga ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan memberdayakan perekonomian warga.

“Badan Perbatasan memberikan ide kepada pemerintah provinsi dalam hal pemberdayaan masyarakat di kawasan perbatasan,” ujarnya.

Selama melakukan pemberdayaan ekonomi, masyarakat di wilayah perbatasan telah mengalami kemajuan antara lain mengekspor bawang merah ke Timor Leste. Selain itu, ada pembagian benih untuk petani.

Semua kegiatan itu bertujuan memberikan motivasi kepada pemerintah kabupaten untuk lebih giat lagi mendongkrak potensi ekonomi di perbatasan.

“Pemberdayaan yang kami lakukan dengan tujuan ekonomi masyarakat bertumbuh. Jangan banyak infrastruktur mewah dibangun di perbatasan, tetapi masyarakat di sana tidak sejahtera,” kata Clementino.

Beragam pembangunan itu menjawab tekad membangun Indonesia dari pinggiran yang termasuk dalam Nawa Cita yang diusung Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Dengan demikian, daerah perbatasan bukan lagi menjadi halaman belakang, melainkan halaman terdepan alias beranda rumah.

“Sejak hari pertama dilantik, saya sampaikan pemerintah sudah jelas menyatakan daerah-daerah perbatasan tidak boleh dilupakan karena merupakan beranda terdepan Indonesia,” kata Presiden saat di Papua, 9 Mei.

Di NTT, ada sejumlah kawasan di tiga kabupaten menjadi daerah terdepan yang berhadapan langsung dengan Timor Leste. Mereka ialah Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Belu.

Dorong KEK
Kecamatan Wini yang menjadi kawasan perbatasan antara Kabupaten Timor Tengah Utara dan Distrik Oekusi, Timor Leste, terus dikembangkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK).

Pembangunan di wilayah yang berjarak sekitar 65 kilomter dari ibu kota Timor Tengah Utara, Kefamenanu, itu terus digenjot, mulai infrastruktur jalan, jembatan, fasilitas pelabuhan, hingga program pemberdayaan masyarakat.

Contohnya pelabuhan laut Wini yang dikembangkan menjadi pelabuhan alternatif untuk perdagangan dan perekonomian serta arus barang dan penumpang antarnegara.

Pelabuhan ini hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari garis perbatasan Indonesia-Timor Leste.

“Saya dan Bupati Belu Willybrodus Lay sudah sepakat untuk arus barang dan penumpang menggunakan Pelabuhan Wini,” ujar Bupati Timor Tengah Utara Raymundus Fernandez.

Fernandes juga mengusulkan pembangunan bandar udara baru di Motadik, perbatasan Belu dan Wini. Lokasi tersebut terletak di pesisir pantai dengan panjang lebih dari 10 kilometer dan jauh dari garis perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Menurutnya, Bandara AA Bere Tallo yang terletak di Atambua tidak bisa diperpanjang untuk didarati pesawat berbadan lebar. Saat ini bandara tersebut hanya mampu didarati pesawat jenis ATR berpenumpang 72 orang.

“Pesawat yang akan take off dan landing di Bandara AA Bere Talo harus berputar melintasi garis batas Timor Leste sehingga perlu diubah dan dibangun baru,” ujarnya.

Pemerintah pusat juga sedang merampungkan pembangunan stadion sepak bola seluas 3,3 hektare (ha) yang rampung Oktober 2017. Stadion sepak bola mini berjarak sekitar 3 kilometer dari garis perbatasan itu dibangun dengan anggaran Rp11 miliar. Proyek ini masih satu paket dengan pembangunan jalan nasional di kawasan perbatasan.

Di lokasi itu juga dibangun jogging track, lapangan bola voli, basket, atletik, jalan lingkungan, dan lampu jalan.

Fernandes mengatakan fasilitas olahraga tersebut akan mendukung kegiatan olahraga anak muda di Timor Tengah Utara serta menjadi tempat pertandingan sepak bola antarnegara. (N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya