Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Aceh Dikepung Narkoba, BNN dan Penegak Hukum Diminta Bertindak Cepat

Amiruddin Abdullah Reubee
14/10/2017 18:15
Aceh Dikepung Narkoba, BNN dan Penegak Hukum Diminta Bertindak Cepat
(MI/Amiruddin Abdullah)

SEMAKIN maraknya penyeludupan narkoba melalui perairan laut Selat Malaka, di wilayah timur dan utara Provinsi Aceh, sekarang telah meresahkan banyak pihak dan warga di negeri berjulukan Serbi Mekkah itu. Apalagi sekarang wilayah pesisir timur dan utara Aceh disebut-sebut merupakan jalur baru penyeludupan narkoba dari luar negeri ke Indonesia.

Karena itu berbagai kalangan di provinsi paling barat Indonesia itu meminta Badan Nakotika Nasional (BNN) dan Polri segera menutup rapat lokasi-lokasi yang sering dijadikan pintu masuk narkoba di tengah laut, tepi pantai hingga jalur darat di Aceh. Lembaga penegak hukum seperti BNN, Polisi dan Bea Cukai harus memetakan lebih rinci dan mengawasi lebih ketat jalur rawan di tengah laut, muara sungai, dermaga dan pelabuhan tikus sepanjang garis pantai utara serta timur Aceh.

Ismi, pemerhati masalah narkoba di Aceh, kepada Media Indonesia, Sabtu (14/10) mengatakan sekarang para penyeludup narkoba sering memasok barang haramnya itu melalui muara sungai atau muara alur kecil yang bisa tembus sekitar permukiman penduduk. Penyeludup biasanya lebih suka merapat melalui muara atau pelabuhan tikus yang lokasinya sepi dan dikelilingi hutan bakau.

"Mereka sering beraktivitas di tengah malam sunyi dan tidak menghidupkan lampu kapal. Untuk mencari arah tujuan menggunakan GPS atau fasilitas navigasi lainnya" jelas Ismi.

Dikatakan Ismi, lokasi paling rawan di Selat Malaka kawasan Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara diantaranya adalah di pesisir Kecamatan Seunuddon Aceh Utara, Muara Ujung Curam, Kuala Geulumpang Kecamatan Julok Aceh Timur. Lalu Idi Cut Kecamatan Darul Aman Aceh Timur, Kuala Beukah Kecamatan Peureulak Aceh Timur. Pasalnya sepanjang pantai itu banyak muara sungai dan hutan bakau. "Di jalur rawan harus lebih ketat supaya tidak mudah lolos" tambahnya.

Hal senada juga di ungkapkan Tuty, Aktivis Ikatan Keluarga Anti Narkoba di Aceh, pihak berwenang seperti BNN dan kepolisian diharapkan segera membasmi aksi peyeludupan narkoba dari luar negeri seperti Malaysia, Thailand, Taiwan dan Myanmar. Karena dikhawatirkan genetasi masadepan di Aceh akan terasuki dan menjadi korban kebiadaban gbong narkoba.

"Jangan biarkan generasi ini rusak masa depannya oleh ulah mafia narkoba. Jangan tumbuh suburkan ideologi gaya kerja Escobar di Kolumbia terhadap generasi kita" ujar Tuty.

Kapolda Aceh Irjen Rio Septianda Djambak, beberapa waktu lalu mengatakan, sejak pertengahan Januari hingga Agustus 2017 saja, kasus narkoba di Aceh sangat besar. Sesuai yang ditangani pihaknya ada 962 kasus dengam jumlah tersangka 1.344 orang.

Kemudian dari 962 kasus itu , barang bukti yang di sita sebanyak 1.856 kg ganja, 30,32 kilo sabu, 3.664 butir ekstasi dan 49,5 ha ladang ganja. Padahal di periode yang sam pada tahun 2016, Poda Aceh menangani 1.080 kasus narkoba dan jumlah tersangkanya 1.440 orang.

Dari perbandingan itu, jumlahnya meningkat tajam. Itu belum lagi hingga pertengahan Oktober 2017 yang selam ini semakin sering tertangkap hingga puluhan kilogram sabu di Aceh. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya