Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SUSTER Postina dan Suster Aurelia melangkah di jalan setapak menuju area hutan di perbukitan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah. Sapa, salam, dan senyum pun mewarnai langkah mereka saat bertemu pria tua, yang tengah mengangkut dedaunan, pakan ternak.
Kedua suster itu menjadi pelayan di Pertapaan Awam Oasis Sungai Kerit (OSK), pertapaan bagi penganut Katolik. Letaknya berada di perbukitan hutan rakyat di lereng selatan Gunung Slamet.
“Kami berinteraksi akrab dengan warga Desa Melung. Saat Lebaran, kami juga turun ke permukiman warga, memberi ucapan selamat Idul Fitri, menyalami mereka, bahkan makan ketupat opor bersama-sama. Kenyang dan indah sekali,” kata Suster Postina, kemarin.
Jarak pertapaan dengan permukiman warga sekitar 1,5 kilometer. Lokasi pertapaan agak terpencil di tengah hutan rakyat yang sunyi.
Sejumlah warga Melung juga ikut bekerja di pertapaan. Mereka muslim.
“Saya bekerja di sini sejak November 2015. Saya tetap muslim meski bekerja dan bergaul dengan suster dan para penganut Katolik di pertapaan ini,” ungkap Defri Priyanto, warga Melung.
Relawan di pertapaan ini, Aloysius Budi Setiawan, sepakat pengurus di pertapaan tidak pernah mencampuri urusan keyakinan para pekerja. “Mereka kerja saja, mencari rezeki. Soal agama dan keyakinan itu urusan paling pribadi dan tidak pernah menjadi halangan untuk bergaul dengan kami,” ujarnya.
Pertapaan ini hanya dipakai untuk menyepi dan berdoa. Warga Katolik datang, merenung, dan berdoa. Biasanya mereka hanya tinggal selama tiga hari.
Tokoh masyarakat Melung, Agung Budi Satrio, menyatakan masyarakat Desa Melung ialah warga yang terbuka. “Kami tidak pernah mempersoalkan keberadaan pertapaan ini,” tutur mantan kepala desa ini.
Warga dan pengelola pertapaan saling menghormati dan menyemai toleransi. Masyarakat Desa Melung bisa hidup berdampingan dengan mereka. Kuncinya komunikasi dan saling terbuka.
“Mudah-mudahan Melung terus menjadi contoh sebagai Indonesia kecil yang menghargai keberagaman. Hanya, yang perlu dijaga ialah pengaruh dari luar, jangan sampai ada provokasi yang menimbulkan perbedaan,” ungkap Budi Satrio.
Toleransi yang telah tertanam di Desa Melung menjadi semakin kuat karena desa ini berusaha menjadi desa inklusi. Kepala Seksi Pelayanan Desa Melung Widi Kurnianto mengatakan beberapa perangkat desa pada 2016 lalu telah mengikuti pelatihan di Wahid Foundation mengenai desa inklusi.
“Pada intinya kampung inklusi ialah desa yang tidak memiliki kebijakan diskriminatif seperti kepada orang disabilitas atau perbedaan SARA. Semuanya diperlakukan sama secara adil,” tandas Widi. (Liliek Dharmawan/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved