Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Petani Kaltim Berkurang 40 Ribu Orang

MI
26/9/2017 08:50
Petani Kaltim Berkurang 40 Ribu Orang
(ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)

DALAM 14 tahun, jumlah petani di Kalimantan Timur merosot sekitar 40 ribu orang. “Dalam satu dekade ini berkurang 40 ribuan petani. Banyak yang beralih jadi pekerja tambang,” ujar Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kaltim Ibrahim di Balikpapan, kemarin (Senin, 25/9).

Dia menggambarkan, saat ini 200 ribu hektare lahan di Kaltim siap digarap 160 ribu orang. Padahal, pada 2003, jumlah petani mencapai 200 ribu orang.

Seiring dengan sektor pertambangan yang gulung tikar, lanjut dia, banyak pekerja diberhentikan. “Sehingga warga yang semula bertani, sempat be­kerja di tambang, ada yang kembali menggeluti usaha pertanian,” papar dia.

Apalagi, imbuh dia, kesejahteraan petani mulai meningkat menyusul komitmen pemerintah menjaga harga jual produksi pangan dalam negeri.

“Karena dalam peningkatan produksi sudah ada yang menjamin pasarnya. Bayangkan saja, untuk garapan 1 hektare mampu menghasilkan 5 ton beras atau Rp12 juta untuk sekali panen. Kami berharap, petani dapat meningkatkan produksi dan bisa memenuhi target Kaltim swasembada beras pada 2018,” harapnya.

Proses regerenasi petani di Kota Sukabumi, Jawa Barat, sulit berlangsung. Pasalnya generasi muda lebih banyak memilih pekerjaan di bidang industri, seperti bekerja di pabrik dan sektor lainnya.

“Mungkin mereka beranggapan sektor pertanian kurang menjanjikan sehingga regenerasi di sektor pertanian cukup sulit,” kata Wali Kota Sukabumi Mohamad Muraz.

Saat ini, jumlah petani di Kota Sukabumi lebih kurang 5.300 orang. Hampir 90% di antara mereka merupakan petani berusia 50 tahun ke atas.

Karena itu, Muraz memprediksi 20 tahun ke depan, di Kota Sukabumi sudah tak akan ada lagi petani karena minimnya regenerasi. “Kami berupaya memberikan pemahaman kepada para generasi muda agar mau jadi petani,” ujarnya.

Minimnya regenerasi mengakibatkan upaya ketahanan pangan sulit terwujud. Ditambah, lahan sawah di Kota Sukabumi terus berkurang seiring dengan industrialisasi.

Saat ini lahan sawah yang tersedia sekitar 1.428 hektare. “Produksi padi yang dihasilkan dari lahan sawah yang ada tidak bisa mencukupi kebutuhan beras masyarakat Kota Sukabumi,” tuturnya. (SY/BB/SS/PS/N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya