Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
KENDATI krisis air bersih sudah melanda 26 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah pada musim kemarau tahun ini, dampak kekeringan pada areal pertanian belum terasa. Sawah yang mengalami gagal panen atau puso dilaporkan tidak terlalu besar sehingga tidak memengaruhi produksi beras Jawa Tengah secara keseluruhan.
Demikian disampaikan Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko usai memberikan bantuan air bersih di Dusun Keniten, Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, kemarin, Rabu (20/9). Heru menyebut, diantara 26 kabupaten yang kekeringan ada Kabupaten Temanggung, Wonogiri, dan yang terparah adalah Banyumas.
Selain krisis air bersih pada warga, kata Heru, kekeringan juga melanda areal pertanian. Dari laporan yang diterimanya, kondisi waduk, bendungan dan embung di daerah-daerah di Jateng sudah turun debitnya hingga kisaran 40 persen.
"Ada dampaknya untuk pertanian tapi tidak terlalu besar. Yang puso juga ada, tapi juga tidak banyak dan tidak berpengaruh pada produksi beras keseluruhan,"ujar Heru.
Untuk mengatasi kekeringan ini, pihak Pemprov Jateng akan mendorong pembangunan lebih banyak embung. Embung sangat berguna untuk menampung air hujan selama satu tahun.
Adapun untuk mengatasi krisis air bersih pada warga, Heru meminta masyarakat membuat sumur resapan di rumahnya masing-masing. Dengan demikian air hujan pada satu musim tidak langsung habis menuju saluran air, namun ada yang terserap, tertampung di sumur resapan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Sarwa Pramana, menyebutkan, Pemprov Jateng telah menganggarkan Rp 42 miliar untuk mengatasi kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Selain itu juga ada anggaran untuk droping air bersih senilai Rp 600 juta di BPBD Jateng.
"Dana tersebut merupakan bantuan darurat untuk mengcover kabupaten/kota yang mengalami kekurangan dana untuk mengatasi kekeringan,"ujar Sarwa.
Ratmi,40, seorang warga Dusun Keniten, Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran, Temanggung, mengaku harus mencari air hingga Dusun Tempuran, Desa Kemloko, Kecamatan Kaloran dengan menempuh jarak sekitar 12 kilometer (km). Untuk itu, ia bersama warga lainnya patungan Rp 20 ribu per orang untuk menyewa kendaraan guna mengangkut air.
"Biasanya kami mencari air sepekan satu hingga dua kali secara berombongan. Tiap orang membawa masing-masing 15 jeriken berkapasitas 30 liter air untuk keperluan satu keluarga. Kekeringan disini memang parah karena tidak ada sumber air,"tutur dia. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved