Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klungkung I Putu Widiada menjamin jika Pemkab Klungkung siap menampung lebih dari 15 ribu pengungsi yang ingin bergerak ke Klungkung. Bahkan, tim yang ada di Klungkung sudah sangat siap seperti Tagana, TNI, Polri, PMI, tenaga medis, dan seluruh elemen terkait lainnya untuk mengurus warga terdampak erupsi Gunung Agung.
"Kami siap menampung lebih dari 15 ribu pengungsi. Mengapa demikian, karena untuk di Klungkung, tidak hanya BPBD saja yang siap. Beberapa warga merelakan gedungnya, beberappa bale banjar juga siap tampung, dan bahkan kalau prasarana sudah siap, ada warga yang rela menggunakan lahan kosongnya untuk dipakai. Hanya saja untuk lahan kosong, kita belum mengizinkannya karena kekurangan logistik seperti tenda, toilet, air bersih dan sebagainya," ujar Widiada.
Menurut dia, saat ini pihaknya sudah mengkoordinir pembangunan tenda di Lapangan Swecapura Klungkung. Jumlah tenda yang dibangun sekitar 13 tenda dengan kapasitas besar yang bisa memuat sekitar 40 orang. Sementara dalam Gedung GOR Swecapura sendiri bisa menampung ratusan atau bahkaan bisa ribun bila menempati areal tribun yang ada.
Kondisinya bisa lebih aman dan nyaman. Selain di Lapangan Swecapura, Pemkab Klungkung juga sudah menyiapkan balai budayanya untuk ditempati pengungsi. Selain itu, pembangunan dapur umum, sarana air bersih dan toilet juga dilakukan.
"Pokoknya kami siap menampung. Sementara pengungsi yang berada di rumah-rumah penduduk juga saat ini sedang didata. Kami belum tahu jumlah persisnya berapa, yang pasti hari diprediksi bisa mencapai ribuan," ujarnya.
Pantauan di pos pengungsi Klungkung menunjukkan, jumlah pengungsi terus berdatangan mulai pagi hingga menjelang sore. Mereka terdiri dari pengungsi mandiri karena atas inisiatif sendiri, dan pengungsi yang memang diminta untuk pindah sementara dari pihak berwenang. Seluruh petugas siaga 24 jam mulai dari TNI, Polri, Tagana, SatPol PP, PMI, tenaga medis, bahu membahu membantu pengungsi. Bahkan petugas tidak membeda-bedakan mana yang pengungsi mandiri maupun data pengungsi yang diterima dari pemerintah. Semua warga ditangani secara merata.
Beberapa pengungsi yang dikofirmasi mengaku sangat ketakutan dengan kondisi cuaca yang tiba-tiba terasa semakin panas, gempa yang terus menerus terjadi. "Kami sangat takut. Ini karena cerita orang tua kami dari yang sudah merasakan langsung letusan tahun 1963 lalu. Banyak sekali korban jiwa. Banyak korban ternak dan tanaman mati. Daripada jadi korban, mending kita cari selamat," ujar salah seorang pengungsi Ketut Ariantini.
Ia mengaku beberapa ternak terpaksa harus dijual murah. Sapi misalnya, harganya sebenarnya Rp 10 juta hanya dijual Rp 5 juta. Kondisi ini hampir terjadi terhadap masyarakat yang berasal dari Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem. Beberapa ternak lainnya ditinggal begitu saja. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved