Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Petani Padi Gagal Panen Akibat Kekeringan

MICOM
13/9/2017 11:35
Petani Padi Gagal Panen Akibat Kekeringan
(Ilustrasi -- ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

SEJUMLAH petani di Desa Besuki Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo mengalami gagal panen akibat kekeringan yang melanda wilayah ini sejak sebulan terakhir. Kekeringan terjadi karena tidak ada lagi aliran air yang biasanya diambilkan dari Sungai Porong.

Kekeringan ini seperti terjadi di lahan sawah milik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Besuki Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. Sedikitnya ada lima hektar lahan sawah di sini ditanami padi berusia satu hingga dua bulan dan keadaannya mulai mati akibat tidak teraliri air dalam sebulan terakhir.

Tak adanya aliran air menyebabkan kondisi tanah sawah mulai retak sehingga tanaman padi pun ikut mengering dan mati. Padahal musim kemarau diperkirakan masih akan terjadi hingga Oktober nanti.

Petani pun mengalami kerugian puluhan juta rupiah karena mereka dipastikan gagal panen tahun ini. Gagal panen ini diperkirakan tidak hanya terjadi di Desa Besuki, melainkan juga di sejumlah desa lain di Kabupaten Sidoarjo.

Petani hanya bisa berharap bantuan pemerintah untuk meningkatkan air irigasi. Ironisnya, air irigasi selama ini tidak mencukupi untuk mengairi semua sawah milik warga. Sebagian warga akhirnya harus menyewa mesin diesel untuk mengairi sawahnya. Namun tak semua areal sawah dialiri dengan air menggunakan mesin disel, karena tidak semua sawah sudah dipasang bor pipa untuk aliran air dari dalam tanah.

"Satu-satunya cara memang harus menggunakan mesin diesel," kata Ketua Gapoktan Besuki Misbach, Rabu (13/9).

Kekeringan yang sama juga dialami di wilayah lain. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan lebih dari 2.726 desa di Jawa dan Nusa Tenggara telah mengalami kekeringan. Meskipun musim kemarau normal pada periode 2017 ini, dikatakan telah menyebabkan kekeringan dan krisis air di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi (pusdalops) BNPB terdapat sekitar105 kabupaten/kota, 715 kecamatan, dan 2.726 kelurahan/desa yang mengalami kekeringan saat ini di Jawa dan Nusa Tenggara.

" Sekitar 3,9 juta jiwa masyarakat terdampak kekeringan sehinga memerlukan bantuan air bersih," ujarnya Selasa (12/9).

Selain itu, kekeringan juga menyebabkan 56.334 hektar lahan pertanian mengalami sehingga 18.516 hektar lahan pertanian gagal panen.

Sedangkan, berdasarkan sebaran wilayahnya, kekeringan di Jawa Tengah melanda 1.254 desa yang tersebar di 275 kecamatan dan 30 kabupaten/kota sehingga memberikan dampak kekeringan terdapat 1,41 juta jiwa atau 404.212 KK.

Berkenaan dengan hal itu, sambung Sutopo, pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengeluarkan status siaga darurat kekeringan hingga Oktober 2017.

Sedangkan, di Jawa Barat kekeringan melanda 496 desa di 176 kecamatan dan 27 kabupaten/kota sehingga berdampak kepada 936.328 jiwa penduduk.

Delapan kepala daerah kabupaten/kota telah mengeluarkan status siaga darurat kekeringan yaitu Kabupaten Ciamis, Cianjur, Indramayu, Karawang, Kuningan, Sukabumi, Kota Banjar, dan Kota Tasikmalaya. Begitu pula halnya dengan di Jawa Timur, kekeringan melanda 588 desa di 171 kecamatan dan 23 kabupaten/kota.(OL-3)

(HS)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya