Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
WARSINO sudah satu bulan berada di Surakarta, Jawa Tengah. Petani asal Desa Kedungsono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, memilih meninggalkan sawahnya dan banting setir menjadi tukang batu. “Sawah kami sudah sangat kering sehingga dibiarkan menganggur. Tanah sawah sudah jadi keras dan sulit ditanami,” kata Warsino.
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo sudah menyarankan warga untuk membuat sumur pantek di tengah sawah. Dinas pertanian juga menawarkan pinjaman mesin pompa air.
“Percuma. Air yang bisa diangkat dari sumur pantek juga sangat kecil. Kami bukan menolak tawaran mesin, tapi air memang tidak ada lagi,” lanjut Warsino.
Di Kecamatan Bulu, kata Camat Sunarjo, petani yang rata-rata kekurangan modal memang selalu menghadapi masalah ketika kemarau panjang datang. “Kemarau jelas membutuhkan biaya ekstra untuk merawat tanaman pangan, terutama padi.”
Petani harus membuat sumur pantek di tengah sawah. Mereka juga harus membeli bahan bakar untuk menggerakkan mesin pompa air.
Parahnya, ujar Sunarjo, saat ini, debit air dari sumur pantek juga sudah semakin mengecil. “Air sulit diangkat. Kalau pun ada, volumenya tidak cukup untuk merawat tanaman padi di hamparan yang luas.”
Alhasil, di Belu, banyak tanaman padi dibiarkan layu dan mati karena kekurangan air. Petani di sejumlah desa juga membiarkan sawah mangkrak, tidak ditanami. “Banyak petani yang meninggalkan sawah, beralih profesi agar dapur tetap ngebul,” tandas Sunarjo.
Kekeringan meluas
Masih di Jawa Tengah, kekeringan terus meluas di Kabupaten Tegal. Jumlah warga yang kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari semakin membengkak.
“Setiap hari, kami mengirim tiga tangki air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan. Kekeringan terus meluas, kebanyakan berada di wilayah pantura, seperti Kecamatan Suradadi dan Warureja,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Tegal, Tedjo Kisworo.
Kemarau yang semakin panjang juga membuat warga di sejumlah desa di Banyumas membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Air hujan yang biasa ditampung untuk memenuhi keperluan sehari-hari sudah tidak ada lagi.
“Selama ini kami mengandalkan tampungan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak mau membeli air dengan harga Rp2.500 per jeriken, kami harus berjalan 2 kilometer untuk mendapat air bersih,” kata Slamet, 52, warga Desa Plangkapan, Kecamatan Tambak.
Bantuan sumur bor di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, juga tidak bisa memenuhi kebutuhan warga. “Debit airnya sudah kecil,” kata Udin, 43, warga.
Kesulitan air bersih di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman,
DI Yogyakarta kekeringan juga meluas. Sampai kemarin, tercatat 24 pedukuhan telah menyatakan kesulitan air bersih.
Camat Prambanan, Eko Suhargono, mengatakan kesulitan air bersih itu telah dialami 24 kepala keluarga. “Pemkab Sleman akan memperluas jaringan pipa distribusi dan membangun bak penampungan untuk mengatasi krisis air bersih.”
Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kekeringan sudah melanda 21 kecamatan. Warga juga bergantung pada pasokan air bersih dari BPBD setempat.
Setali tiga uang, waduk dan embung di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, juga mengering. Petani sudah mulai ketar-ketir karena tanaman mereka terancam puso. (JI/LD/AU/BB/YK/RF/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved