Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai musim kemarau tahun ini masih normal meskipun lebih kering ketimbang tahun lalu.
“Pada 2016 terjadi La Nina sehingga masih banyak hujan di musim kemarau. Namun, saat ini musim kemarau berlangsung normal,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, kemarin.
Karena itu, dia memperkirakan musim kemarau kali ini tetap berlangsung hingga Oktober dengan puncaknya pada bulan ini.
Dia menyatakan kekeringan yang terjadi saat ini di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Timur ialah di daerah yang defisit air.
“Artinya, ketersediaan air yang ada tidak mencukupi kebutuhan sehingga setiap musim kemarau kekeringan,” ucapnya.
Upaya yang dilakukan, ujar Sutopo, antara lain pengiriman air bersih serta pembuatan sumur pompa dan sumur dalam.
“Untuk jangka pendek setiap tahun dibangun sumur air tanah dalam, bak penampung air hujan, revitalisasi embung, dan lainnya,” kata Sutopo.
Sebanyak 13 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat menetapkan status darurat kekeringan.
Berdasarkan keterangan di akun Twitter BNPB pada 31 Agustus, daerah yang menetapkan darurat kekeringan itu terdiri atas 9 di NTT dan 4 di Jabar.
Daerah yang kekeringan di NTT ialah Flores Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Sabu Raijua. Daerah kekeringan di Jabar ialah Sukabumi, Cianjur, Karawang, dan Kota Banjar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sabu Raijua Pither Mara Rohi menjelaskan, selama beberapa bulan terakhir rakyat daerah itu kesulitan air bersih karena sumber mata air mengering.
Dia mengatakan, sejak Juni pemerintah mengirim air bersih menggunakan mobil tangki.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Dwi Daryanto, memastikan Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, menambah kawasan kekeringan di Bantul. “Desa Sitimulyo mengajukan bantuan droping air bersih beberapa hari lalu,” katanya.
Sebanyak 20 kecamatan di Sukabumi dilaporkan kekeringan. “Data sementara sudah 20 kecamatan yang melapor ke BPBD,” terang Humas Palang Merah Indonesia (PMI) Sukabumi Atep Maulana.
Embung mengering
Kondisi embung di sejumlah daerah juga mulai mengering. Seperti diungkapkan Kepala BPBD DIY Krido Suprayitno, debit air di 7 embung sudah menurun dan 4 embung yang kering sejak akhir Agustus.
Karena itu, kata dia, salah satu prioritas yang akan dilakukan ialah melestarikan sumber daya air yang ada dan konservasi lingkungan.
Ratusan petani di sejumlah desa di Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, terpaksa menelantarkan lahan sawah mereka seiring keringnya embung.
“Tidak mungkin lagi menggarap padi. Palawija saja sudah susah karena sudah tidak ada lagi air tersisa di embung di Kecamatan Pracimantoro,” tutur salah seorang petani Parjiono.
Kepala BPBD Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan sembilan desa di Kecamatan Pracimantoro mengalami krisis air. Dua di antaranya, Desa Gambirmanis dan Desa Joho, mengalami kekeringan terparah pada awal September. (PO/AT/WJ/AU/AD/BB/Ant/N-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved