Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Umat Hindu Bali Rayakan Tumpek Landep

Arnoldus Dhae
02/9/2017 09:47
Umat Hindu Bali Rayakan Tumpek Landep
(ANTARA)

UMAT Hindu Bali merayakan upacara Tumpek Landep pada Sabtu (2/9). Dalam kalender tradisional Bali upacara Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, Tumpek Landep berasal dari kata tumpek yang berarti tampek atau dekat dan landep yang berarti tajam. "Dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai - nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk," ujarnya.

Tumpek Landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Upacara ini digelar setelah hari raya Saraswati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Jadi setelah memperingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunnya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati.

Pada rerainan Tumpek Landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi atau upacara untuk menyucikan seluruh benda yang berbahankan besi.

Namun seiring perkembangan zaman, makna Tumpek Landep menjadi berkembang secara modern dan bahkan bisa memberikan kesan menyimpang dari makna sesungguhnya.

"Sekarang ini masyarakat justru memaknai Tumpek Landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi. Sesungguhnya ini hanyalah simbol dan bila tidak dipahami makna sesungguhnya maka sangat berpotensi jauh menyimpang.

"Boleh saja pada upacara Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitikberatkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala (kejahatan) yang ada di dalam diri sendiri," ujarnya.

Jika menilik pada makna upacara, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja yang berasal dari besi lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.

Tumpek Landep adalah tonggak untuk introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran - ajaran agama dan ilmu pengetahuan. Pada rerainan tumpek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah, merajan serta di pura, memohon kepada Ida Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.

Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur. Bagi para seniman, tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan - pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya