Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

PKB Tolak jika Bima Arya Digandeng Emil

Bayu Anggoro
26/8/2017 11:30
PKB Tolak jika Bima Arya Digandeng Emil
(ANTARA/Arif Firmansyah)

LANGKAH Partai Amanat Nasional (PAN) mendekap Ridwan Kamil untuk disandingkan dengan Bima Arya dalam Pemilihan Kepala Dae­rah (Pilkada) Jawa Barat 2018 bakal melalui jalan terjal.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bakal menjadi pengganjal niat PAN untuk menduetkan Wali Kota Bandung dengan Wali Kota Bogor tersebut. Alasannya, PKB memiliki kedekatan dengan Partai Nasional Demokrat (NasDem) untuk siap melangkah bersama di Jabar. NasDem merupakan partai yang sudah lebih dulu mengusung Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, dalam kontes di Jabar.

Selain karena sama-sama partai pendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, PKB Jawa Barat mengaku intens berkomunikasi dengan NasDem. “Kami dekat dengan NasDem karena sama-sama pendukung pemerintah. Komunikasi pun dilakukan dengan intens,” ujar Ketua DPW PKB Jabar Syaiful Huda, kemarin.

Selain itu, Huda mengaku partainya memiliki kedekatan dengan Emil. Meski begitu, pemilihan kandidat pada ajang demokrasi tersebut memerlukan pemikiran yang matang karena memiliki keterkaitan dengan pemilihan gubernur di provinsi lain hingga Pilpres 2019. “Jadi sepertinya keputusannya belum sekarang ini,” paparnya.

Hanya, lanjut Huda, PKB tidak akan mendukung Emil jika dia dipasangkan dengan Bima Arya. Alasannya, PKB tidak melihat kedekatan emosional antara Emil dan Bima. Selain itu, Huda menilai PAN tidak serius mendukung Emil.

“Bima Arya itu fungsio­naris PAN. Saya belum melihat ke­sungguhan PAN untuk berkoalisi dengan Emil. Yang saya lihat justru kesungguhan PAN dengan Deddy Mizwar,” ungkapnya.

Tak hanya itu, menurut Huda, mereka tidak cocok karena berlatar belakang yang sama, yaitu teknokrat. Dalam kepemimpinan yang baik, antara gubernur dan wakil harus saling melengkapi. Emil, lanjutnya, akan cocok dipasangkan dengan cawagub berlatar belakang santri.

Korban SARA
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengaku kerap menjadi korban tudingan SARA. Tudingan-tudingan itu muncul sejak awal ia mengusung ke­sundaan di Purwakarta sebagai platform pembangunan. Hal itu diungkapkan Dedi ketika terungkap adanya kelompok penyebar konten berbau SARA untuk mendiskreditkan berbagai pihak melalui akun-akun media sosial.

Menurut Dedi, penyebar isu SARA, hoaks, dan fitnah merupakan pribadi yang bermental penjajah. “Mereka yang hobi menyebar adu domba, fitnah, bahkan isu bernuansa SARA itu ciri mental penjajah dan tidak bertuhan,” kata Dedi.

Tudingan-tudingan berbau SARA itu kian gencar ketika namanya mulai disebut-sebut sebagai calon Gubernur Jabar. Hanya, ia mengaku tidak khawatir atas dampak yang di­timbulkan terhadap degradasi citra dirinya. Dedi lebih mengkhawatirkan dampak terhadap masyarakat luas.

Dedi menegaskan pemahaman tentang ketuhanan harus melekat dalam diri pengguna media sosial sehingga timbul kesadaran yang tinggi saat akan menyebarkan sebuah konten ke akun media sosial.

Ia berharap para kriminal yang terlibat dalam bisnis ujaran kebencian itu bisa dijatuhi hukuman berat, termasuk para pemberi order. (RZ/AD/OL-4)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya