Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KEARIFAN lokal berupa budaya dan tradisi akan menjadi penyaring terhadap masuknya pemikiran radikal.
“Tradisi dan budaya di Tengger akan terus dikembangkan dan dipertahankan sampai kapan pun. Selain melestarikan budaya leluhur, kami menjadikan hal itu menjadi sebuah kebiasaan positif. Misalnya, tetap mempertahankan kasada, pujan kasanga, dan tradisi lainnya,” kata sesepuh Tengger Sukapura, Supoyo.
Dia mengatakan itu di sela-sela Bromo Tengger Sukapura Carnival di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kemarin.
Menrut Supoyo, kegiatan yang digelar warga Tengger itu bertujuan menunjukkan nasionalisme yang tinggi dan untuk menangkal serta mencegah paham radikalisme serta terorisme yang mengancam kehidupan masyarakat.
Sebagai sesepuh suku, Supoyo tak ingin suku Tengger terkontaminasi oleh paham seperti itu.
“Kami bersama tokoh agama lain dan bersama masyarakat bergandengan tangan untuk menjaga persatuan dan kesatuan, di antaranya melalui pelestarian budaya suku Tengger seperti karnaval ini. Karena hal itu bisa menjadi power kami untuk melawan paham radikal agar tidak masuk ke sini,” kata Supoyo.
Menurutnya, kerukunan dan keharmonisan di suku Tengger harus dijaga sesuai dengan Tri Hita Karana atau tiga hubungan yang harmonis. Yakni, manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.
Dengan keyakinan terhadap keberadaan Tuhan membuat insan taat beribadah dengan saling menghargai kepercayaan masing-masing sehingga berpengaruh terhadap hubungan sesama manusia dengan saling menyayangi dan mengasihi. Itu sekaligus menjaga keharmonisan dengan alam dan bersikap arif.
“Itu kunci kami selama ini. Makanya suku Tengger tetap kompak dan harmonis sampai sekarang ini. Saya kira kami akan melawan paham radikalisme dengan cara dan budaya kami yakni Tengger,” papar anggota Fraksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Probolinggo itu.
Dia menambahkan masyarakat juga akan diberi wawasan mengenai bahaya radikalisme dan terorisme.
Karnaval itu diikuti ribuan pelajar dan masyarakat suku Tengger di Kecamatan Sukapura. Dengan mengenakan pakaian tradisional, para peserta menyajikan atraksi budaya berbagai tarian daerah.
Ujung tombak
Camat Sukapura Yulius Christian mengatakan Sukapura Carnival ialah wujud kecintaan suku Tengger terhadap negara dengan tetap mempertahankan budaya serta kearifan lokal.
Selain itu, sambung dia, karnaval itu menjadi momentum untuk mengajak generasi bangsa agar tidak masuk ke lubang yang salah.
“Kegiatan positif bisa menjadi alternatif untuk mencegah anak masa depan bangsa terjerumus ke dalam kegiatan negatif sekaligus kegiatan ini menjadi ajang untuk mengedepankan kearifan lokal suku Tengger,” terang Yulius.
Menurut Yulius, suku Tengger kaya dengan kearifan lokal yang patut menjadi salah satu ujung tombak mempersatukan dan menjaga kesatuan bangsa.
“Bahkan, dengan kearifan lokal membuat kami, camat, kapolres, dan danramil atau unsur tiga pilar, bisa menjaga persatuan bangsa, termasuk mencegah paham radikalisme masuk ke suku Tengger ini,” pungkas Yulius. (N-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved