Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA menangkal radikalisme banyak caranya. Kreativitas warga masyarakat menjadi kunci untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air. Seperti yang dilakukan pengurus Masjid Al-Ikhlas di Desa Sidorejo, Sidoarjo, Jawa Timur, dengan menggelar upacara bendera pada HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia, kemarin. Mereka beralasan hal ini untuk menangkal radikalisme yang berusaha merongrong ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI.
Ratusan warga hadir memenuhi halaman masjid. “Sebagai orang desa yang jauh dari pusat kekuasaan, kami juga merasakan adanya getaran ekstremisme. Kelihatan jelas ada gerakan-gerakan anti-Pancasila,” kata Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Abdul Wahid.
Abdul Wahid prihatin karena ada yang menekankan bahwa dasar negara itu sebagai berhala. Hormat kepada bendera Merah Putih juga diharamkan. “Belum lagi maraknya narkoba dan korupsi. Kami berharap negara kuat membentengi NKRI, sekaligus membentengi generasi muda dari radikalisme,” tegasnya.
Upaya untuk menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan bangsa ini merupakan milik setiap WNI, Umar Patek alias Hisyam bin Alizein ditunjuk menjadi petugas pengibar bendera Merah Putih di LP Kelas I Surabaya. Ia berperan sebagai pembawa bendera.
Umar Patek yang disebut sebagai salah satu tokoh jaringan Al-Qaeda tidak meminta syarat apa pun. Untuk menjadi anggota pengibar bendera Umar dilatih Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan bos Asaba. Menurut Kepala LP Riyanto, kesediaan Umar Patek menjadi pengibar bendera karena semata-mata kecinta-annya pada Indonesia. “Ini murni karena dia cinta kepada bangsa,” tuturnya.
Zikir kebangsaan
Polda Sumatra Barat menggelar zikir kebangsaan dan doa bersama di halaman kantor polda, yang diikuti unsur Muspida Sumbar, Kota Padang, anggota TNI dan Polri, serta masyarakat.
“Zikir dan doa bersama tersebut dapat meningkatkan ukhuwah islamiah. Hal ini relevan dengan berkebangsaan, yakni tantangan kita sangat kompleks,” ujar Kapolda Sumbar Irjen Fakhrizal.
Menurutnya, sudah 72 tahun perjalanan bangsa dalam alam kemerdekaan, tidak cukup hanya sebatas menghitung usia, tetapi harus ada kajian substantif dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
Acara serupa juga dilakukan Kodim 0612 Tasikmalaya di Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Bahkan bagi pemeluk agama lain juga dilakukan ajang serentak di tempat ibadah mereka masing-masing.
“Doa bersama dan khataman Alquran serentak dilakukan di seluruh Indonesia mulai pukul 17.00 WIB, sedangkan bagai pemeluk agama lain di tempat ibadah mereka,” papar Dandim 0612 Tasikmalaya Letkol Inf Kurniawan.
Dari Yogyakarta, Gubernur Sri Sultan HB X berpesan agar memperingati hari kemerdekaan tidak sekadar formalitas, tetapi memahami arti dan nilai dari kemerdekaan itu sesungguhnya.
“Dari peringatan ini, kita bisa mengerti pengorbanan dari para the founding fathers,” papar Sri Sultan seusai menjadi inspektur upacara. Ia berharap tidak ada lagi penyalahgunaan kekuasaan atau kesewenang-wenangan. Bahkan toleransi harus menjadi kekuatan bersama membangun negeri.
Mantan Ketua MK Mahfud MD menyebut peringatan kemerdekaan RI berarti negara ini sudah final. “Jangan lagi berpikir negara selain NKRI. Adanya gerakan yang ingin mengganti bentuk negara dan sistem pemerintahan sangat berbahaya karena bisa meng-ancam NKRI. Itu bertentangan dengan kesepakatan awal negara ini didirikan,” tegasnya. (YH/AD/AT/PO/OL/DG/HJ/DY/OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved