Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Golkar belum Resmi Usung Dedi Mulyadi

Bayu Anggoro
12/8/2017 13:45
Golkar belum Resmi Usung Dedi Mulyadi
(MI/BAYU ANGGORO)

LANGKAH Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk promosi ke kursi Gubernur Jawa Barat belum mulus. Partai Golkar ternyata belum mengusungnya secara resmi.

Adalah Ketua Dewan Pakar Pertimbangan DPP Partai Golkar Agung Laksono yang mengungkapkan pihaknya belum mengeluarkan surat keputusan (SK) resmi pengusungan Dedi Mulyadi sebagai calon Gubernur (cagub) Jawa Barat (Jabar) 2018.

“Sampai hari ini (cagub) belum dipilih. DPP secara formal belum mengeluarkan rekomendasi siapa yang akan diusung meski (Dedi) sudah diusulkan DPD Golkar Jabar sebagai cagub. Hal ini sengaja dilakukan agar tidak mengganggu proses sosialisasi ke masyarakat,” kata Agung, kemarin.

Namun, Agung optimistis Partai Golkar akan mengusung Dedi pada Pilgub Jabar 2018. “Saya optimistis meski formalnya belum keluar. Berkali-kali saya bicara dengan Setya Novanto (Ketua Umum Partai Golkar), Dedi enggak masalah di internal Golkar, didukung secara kompak,” lanjutnya.

Segudang prestasi yang dimiliki Dedi ternyata masih membuat Golkar baru menebar janji. Alasannya, seperti diungkapkan Agung, pihaknya akan menjadikan hasil survei sebagai penentu calon yang akan diusung. “Suasana politik tetap akan diperhatikan dan akan menjadi pertimbangan yang kuat,” kilahnya.

Soal koalisi, ia membuka peluang bergandengan tangan dengan PDIP. Bahkan PDIP dikatakan legawa kalau diberi posisi cawagub. Soal nama yang disodorkan, Agung menjawab terserah PDIP.

Pantas memimpin
Suka tidak suka, konstelasi politik Pilgub Jabar 2018 mulai menghangat. Ketika sejumlah partai mulai menyebut nama-nama kandidat yang bakal diusung, dalam pandangan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dede Mariana, semua masih sangat cair.

“Jadi masih sangat cair. Koalisi di luar PKS, Gerindra belum terbentuk hingga kini,” ujarnya. Sejauh ini PKS sudah mengklaim duet Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu kendati membuat Gerindra merengut. NasDem lebih dulu menegaskan mendukung Ridwan Kamil dan Golkar belum bergeser dari Dedi Mulyadi.

Hanya, dalam pandangan Wawan Gunawan, analis politik Universitas Ahmad Yani, perkembangan politik di Jabar justru tak ada yang istimewa. “Hangatnya suhu hanya ada di level elite politik dan gerilyawan politik, sedangkan di tingkat masyarakat malah tak begitu bergairah. Ada kesenjangan pikiran, apa yang diinginkan masyarakat tak sejalan dengan keinginan partai,” tambahnya.

Dalam perspektif Wawan, pasangan ideal ialah Kang Emil berduet dengan Dedi Mulyadi karena bisa saling melengkapi. Integritas keduanya terbukti dan punya modal kepemimpinan visioner.

Hal senada juga diungkapkan Dede bahwa duet Emil-Dedi peluang menang bisa 60%. “Hanya mereka harus bisa meminimalkan isu SARA dan dapat mitra koalisi kelompok/parpol Islam, seperti PKB dan PPP,” tambahnya.

Hanya, kedua tokoh ini harus mampu mengerem ego kalau tak ingin ada matahari kembar. “Emil-Dedi punya karakter menonjol, kreatif dan inovatif. Tinggal bagaimana mereka memainkan peran secara bijak kelak,” tambah pengamat politik dan pemerintahan Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf. (BU/OL-4)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya