Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
HADIRNYA kemarau tak berarti membuat defisit pemasukan bagi negara. Setidaknya ada penghematan senilai Rp12 triliun karena tidak melakukan impor jagung.
Kekeringan sudah pasti berdampak terhadap komoditas pertanian dan sudah pada tempatnya kalau Kementerian Pertanian mengambil berbagai langkah untuk mengatasinya. Salah satu yang dilakukan ialah pemompaan di sejumlah wilayah pertanian. Puluhan ribu pompa sudah disiapkan untuk menyedot air dan mengarahkannya ke lahan pertanian.
"Alhamdulillah, puluhan ribu pompa sudah disiapkan," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Bandung, kemarin.
Upaya yang dilakukan dalam mengatasi kekeringan ini ialah mencoba meningkatkan kapasitas produksi pertanian demi mencapai kedaulatan pangan. "Kita juga harus memiliki benih yang baik potensinya," ujar Andi Amran.
Cara lain ialah meningkatkan penguasaan teknologi pertanian. Selain produksi bertambah, dengan peningkatan teknologi, biaya produksi bisa ditekan.
"Dulu kalau tanam, itu biayanya Rp2 juta. Tapi dengan mekanisasi sekarang, combine, hand tractor, bisa menghemat Rp1 juta sampai Rp1,5 juta," imbuhnya.
Bahkan dengan itu, pemerintah tidak mengimpor jagung dan lebih memanfaatkan produksi petani lokal. "Biasanya Agustus ini sudah impor 2,5 juta jagung, tapi sekarang nol. Akibat tidak adanya impor ini, negara mampu menghemat devisa hingga Rp12 triliun," tandasnya.
Alih tanaman
Kendati demikian, krisis air akibat kemarau di Kota Kupang, NTT, memaksa petani setempat beralih menanam jenis tanaman yang membutuhkan sedikit air. "Banyak petani sudah beralih menanam bawang merah karena butuh sedikit air daripada menanam padi," ujar Gardi Saekoko, petani di persawahan Oepoi, kemarin.
Gardi mengolah lahan seluas 40 are yang pada Januari lalu ditanami padi. Dia menyebutkan petani tidak mungkin kembali menanami lahan sawah mereka dengan padi di musim tanam kedua.
Pasalnya sumber air yang selama ini menyuplai air ke persawahan terus menurun sejak dua bulan terakhir. Bahkan mulai Agustus, air tidak dapat dialirkan lagi ke sawah.
Beruntung Gardi memiliki sumur yang masih berair sehingga tak ada masalah. Tapi, banyak koleganya terpaksa membeli air tangki seharga Rp70 ribu ukuran 5.000 liter untuk menyiram tanaman bawang mereka. Harga air tangki sebelumnya Rp50 ribu-Rp60 ribu sebelum krisis air melanda.
Krisis air juga melanda warga Dusun Parit, Desa Lumut, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Mereka pun terpaksa memanfaatkan air kolong eks penambangan pasir timah untuk mandi dan cuci. Hal itu disebabkan sumur tempat persediaan air milik warga sudah mulai mengering.
"Setiap pagi, siang dan sore, warga kita beramai-ramai mandi dan cuci di kolong bekas tambang sebab hanya kolong itulah sumber air yang dimiliki warga," ujar Kepala Desa Lumut Diki.
Begitu juga yang terjadi di kawasan lereng Gunung Bromo. Dari empat desa di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Desa Watulumbung dan Cukurguling mengalami kekeringan yang parah.
"Sebanyak empat desa yang rawan, Watulumbung dan Cukurguling sudah mengalami krisis air bersih. Penyusutan debit mata air membuat aliran air terus mengecil sehingga isi tandon-tandon yang ada semakin berkurang," tutur Camat Lumbang Agus Mashady. (PO/RF/AB/AU/BB/LD/OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved