Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT menjelang senja di sekitaran Jalan Babarsari, Sleman, DIY, seorang pendeta yang tak mengenakan jubah hitamnya berjalan perlahan. Sampai di sebuah toserba, dia berhenti dan ngobrol dengan beberapa kawannya. Sesaat kemudian seorang perempuan berhijab warna cokelat muda sedang mengeluarkan motor, juru parkir datang menghampiri dan membantunya. Perempuan itu pun memberikan selembar uang sebagai biaya parkir.
“Saya tidak pilih-pilih pekerjaan. Kerja apa pun yang penting halal,” kata Palti Hatoguan Panjaitan, 45, kemarin petang.
Dialah sang pendeta itu. Sudah 4 hari ini Palti resmi memiliki seragam juru parkir di salah satu toserba yang terletak di pojokan pertigaan Jalan Babarsari.
Palti menegaskan semua dilakukannya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. “Anak saya sudah SMP, kebutuhan hidup harus tercukupi, dan saya tak punya apa-apa lagi,” ujarnya.
Sebenarnya, Sabtu (29/07), Palti diwisuda setelah menyelesaikan studi di Pascasarjana Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, Program Studi Kajian Konflik dan Perdamaian. Sejak itu pula beasiswa yang dia dapatkan selesai.
Beasiswa itu juga yang ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup bersama istri dan 1 anaknya. “Selama studi, saya cuti dari pendeta sehingga tidak berhak mendapatkan fasilitas,” ujar pendeta di HKBP Filadelfia Bekasi ini.
Ijazah S-2 yang dimilikinya tak membuatnya pindah haluan. Sebagai juru parkir, Palti mengaku perasaannya bercampur aduk. Tatapan sinis, keramahan, hingga berbagai macam polah manusia saat menerima uang recehan sebagai biaya parkir, kerap diterimanya. “Saya tidak malu, justru bisa merasakan langsung bagaimana kehidupan juru parkir,” tukasnya.
Di hari pertama sebagai juru parkir, istrinya, Emeliana Tambunan, 45, ikut membantu. Bahkan membantu menghitung uang recehan yang didapatnya pada hari itu. “Dapat Rp335.100,” paparnya.
Dari sejumlah itu, dia hanya mendapatkan honor Rp70 ribu dan jatah makan minum sekali dalam sekali sif. Untuk menambah pemasukan, Palti juga merangkap menjadi pengemudi ojek daring. Di sisi lain, Palti juga mengemban amanah sebagai Koordinator Nasional Sobat Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB).
Kehidupannya sebagai pendeta di Bekasi selalu mengalami konflik. Bahkan dia malah menjadi tersangka dugaan pemukulan dan perbuatan tidak menyenangkan pada 2013, tetapi sampai sekarang kasusnya tidak jelas.
“Saya ingin menyelesaiakan konflik dan menciptakan perdamaian,” tekadnya.
Ia ingin melayani bagaimana membangaun hubungan antaragama dan kepercayaan di Indonesia agar terbangun keharmonisan. “Jadi jangan lagi ada konflik. Kita semua bersaudara, jangan bertengkar,” tukasnya.
Pengalamannya sebagai juru parkir dan pengemudi ojek daring akan dipakai sebagai bahan kajian bagaimana memahami masyararakat dan menghargai profesi apa pun. (Furqon Ulya Himawan/OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved