Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
GADIS itu nekat bunuh diri dengan cara terjun ke Sungai Kampar, Riau, kemarin. Ia tenggelam, hanyut dan ditemukan di Desa Batu Belah, Kabupaten Kampar, dalam kondisi tak bernyawa.
“Ia nekat bunuh diri karena sering di-bully teman-temannya di sekolah. Dia sering mengeluhkan hal itu kepada keluarga dan beberapa kali minta dipindahkan ke sekolah lain,” ungkap Juliardi, paman korban.
Remaja putri berusia 16 tahun itu duduk di kelas X SMA Negeri I Bangkinang, Kampar. Kepada sang paman, ia mengaku sering diejek teman-temannya.
Dari hari ke hari perundung-an atau perisakan (bullying) itu makin meningkat dan mendalam saat teman-temannya di sekolah tahu bahwa ayah kandung korban menderita gangguan jiwa. “Dia sudah tidak mau lagi belajar di sekolah itu. Dia minta dipindahkan ke sekolah lain,” tutur Juliardi.
Ia menambahkan, sebelum kejadian pihak keluarga sebenarnya sudah berencana mendatangi sekolah korban untuk mengonfirmasi perundungan yang sering dialami korban. Jika kondisi itu tak berubah, keluarga juga berniat memindahkan korban. Namun, terlambat. Korban telah meninggal dunia.
“Saya berencana tetap mendatangi pihak sekolah untuk menjelaskan permasalahan ini agar peristiwa serupa tidak terulang kembali,” jelas Juliardi.
Saat ditemui terpisah, Kapolres Kampar Ajun Komisaris Besar Deni Okvianto membenarkan bahwa korban telah ditemukan meninggal dunia setelah hanyut sejauh sekitar 1 km. “Ia terjun ke aliran sungai dari Desa Kumantan, Bangkinang. Korban ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa dan kemudian dievakuasi ke RSUD Bangkinang.”
Siswa SD
Gadis kecil lain juga menjadi korban perundungan. Bocah berusia 9 tahun dan masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar Negeri 01, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, itu mengalami trauma berat.
Ia masih belum melupakan olok-olok dan kekerasan yang dilakukan sembilan teman di kelasnya. Bahkan, bayangan itu terbawa hingga ke rumahnya.
“Kalau melihat orang asing yang tidak dikenalnya datang ke rumah, ia langsung ketakutan. Luka-luka akibat penganiayaan oleh teman-temannya memang sudah sembuh, tapi ia masih sulit diajak ngomong,” kata Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak Kudus, Noor Haniah, yang mendam-pingi korban.
Gadis cilik itu tercatat tinggal di Nalumsari, Kabupaten Jepara, tapi bersekolah di Kudus. Siksaan terhadap dirinya sudah tergolong sadis karena ia dipukul, kakinya ditindih kursi, dan alat kelaminnya juga jadi sasaran. “Kondisi korban masih trauma berat. Ia memerlukan pendampingan khusus untuk memulihkan kondisi psikologisnya,” tambah Noor.
Perundungan terhadap korban terjadi di dalam kelas saat kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung. Guru yang seharusnya berada di dalam kelas saat itu meninggalkan siswa untuk mengikuti rapat.
Kapolres Kudus AKB Agusman Gurning mengaku sudah menyelidiki kasus itu. Tim dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak akan mengusutnya. “Kami akan menangani kasus ini secara profesional karena korban dan pelaku masih anak-anak,” janji Agusman. (AS/OL/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved