TANGERANG merupakan daerah penyangga Jakarta yang secara geografis bersebelahan dengan Ibu Kota. Namun, masih ada sebagian warganya yang berperilaku tidak seperti warga kota metropolitan.
Masih ada di antara mereka berperilaku hidup tidak sehat bahkan cenderung jorok, antara lain masih buang air secara sembarangan atau lebih dikenal dengan istilah dolbon, atau kependekan dari modol di kebon (buang air besar di kebun).
Karena itu, Pemerintah Kota dan Kabupaten Tangerang terus berupaya mengubah perilaku warganya dengan cara membangun fasilitas mandi cuci kakus (MCK). Sepanjang 2015 saja, Pemerintah Kota Tangerang telah mengeluarkan dana APBD sebesar Rp5,76 miliar untuk membangun 1.692 MCK di 13 kecamatan.
"MCK tersebut tersebar di 104 kelurahan," kata Kepala Bagian Humas Pemkot Tangerang Wahyudi Iskandar, kemarin. Namun, jumlah MCK di setiap kelurahan tidak sama, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Ia menyebutkan perbedaan jumlah MCK yang dibangun di setiap kelurahan juga ditetapkan berdasarkan usul dari ketua RT, RW, dan lurah setempat. Sebab, merekalah yang paling mengetahui warga mana saja yang masih buang air sembarangan.
Pada tahun ini diharapkan, seluruh wilayah rawan dolbon tersentuh oleh MCK sehingga pada 2016 tidak ada lagi masyarakat Kota Tangerang yang dolbon.
Seperti halnya Kota Tangerang, Pemerintah Kabupaten Tangerang juga terus membangun fasilitas MCK. Menurut Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, beberpa waktu lalu, sebelumnya masih ada warga yang berperilaku hidup tidak sehat. Akan tetapi, ia bertekad tahun depan Kabupaten Tangerang bebas dolbon.
Dari 29 kecamatan di kabupaten tersebut, yang sebagian masyarakatnya belum berperilaku hidup sehat berada di lima kecamatan, yakni Balaraja, Jambe, Sepatan Timur, Jayanti, dan Sukadiri. Karena itu pula, wilayah tersebut kerap terserang penyakit muntaber. (Sumantri Handoyo/J-2)