Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Mau Aman Mengetem? Bayar Upeti

MI
28/11/2015 00:00
Mau Aman Mengetem? Bayar Upeti
(Dok.MI)
ANGKUTAN umum mengetem di sembarang tempat menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah lokasi di Ibu Kota. Kendaraan yang mengetem bahkan kerap menutupi badan jalan sehingga menjadi biang kemacetan lalu lintas.

Seperti yang terlihat di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (26/11). Sejumlah angkot mengetem di kolong flyover Jalan Abdulah Syafei ke arah Tebet, atau berada di luar terminal. Dari puluhan angkutan umum yang mangkal itu adalah jenis mikrolet 44 jurusan Jatinegara-Karet.

Di lokasi itu para sopir menghentikan kendaraan mereka tidak hanya di bahu jalan, tapi ada yang naik hingga ke trotoar, yang merupakan hak pejalan kaki.

Akibat ulah mereka, kendaraan dari arah Cawang menuju Tebet selalu tersendat di luar Terminal Kampung Melayu. Bunyi klakson dari kendaraan yang akan melintas menambah semrawutnya kawasan tersebut.

Sopir angkot mengetem di sembarang tempat dengan bebas bukan tanpa alasan. Ternyata mereka berani melanggar aturan lantaran telah memberikan upeti kepada timer dan ormas daerah. Upeti ialah cara untuk memuluskan angkot yang mengetem agar tidak ditindak petugas.

"Kami setiap hari setor Rp20 ribu ke timer. Biasanya saya mengetem sehari dua kali. Uang itu katanya untuk koordinasi, nanti disetor ke oknum aparat," kata Rinto, salah seorang sopir angkot.

Menurutnya, praktik itu sudah berlangsung lama. Jika para sopir yang mengetem tidak menyetor uang kepada timer, mereka diancam ditilang petugas. "Nanti diisengin. SIM ditilang, atau kalau surat kendaraan enggak lengkap, angkotnya dikandangin," tuturnya.

Akan tetapi, uang setoran ternyata bukan jaminan mereka bisa lolos saat tiba-tiba terjadi razia yang digelar petugas Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI. Sebab, saat razia berlangsung, para timer yang biasa menerima uang dari para sopir untuk kemudian disetorkan kepada petugas itu, lepas tangan.

"Mobil yang ditilang dan dikandangin tetap kami yang urus. Mereka (timer) enggak berbuat apa-apa," ujar Budi, sopir lainnya.

Ia menyatakan tidak punya pilihan kecuali mengetem lantaran terminal tidak mampu menampung seluruh angkot. Selain itu, mengetem di luar terminal dianggap lebih mudah mendapatkan penumpang.

"Kalau engak mengetem, susah dapat penumpang," ujarnya.

Kepala Suku Dinas Perhubungan dan Transportasi Jakarta Timur Bernad Octavianus Pasaribu saat dimintai konfirmasi menyatakan belum tahu adanya pemberian upeti dari para sopr. Ia berjanji akan mengecek dan menindak tegas anak buahnya yang terlibat melakukan praktik tersebut.

"Kalau benar ada (praktik pemberian upeti), langsung saya pecat. Nanti akan kami tertibkan supaya tahu siapa yang masih bermain," ujarnya. (Akmal Fauzi/J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya