BILA menyebut nama Masjid Istiqlal, hampir setiap orang di Jabodetabek mengetahuinya. Masjid yang dibangun selama 15 tahun itu merupakan masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Sebagai masjid negara, Istiqlal sewajarnya memiliki standar pelayanan untuk pengunjung yang akan menunaikan salat.
Soal kenyamanan, menurut Toni, salah satu pengunjung yang ditemui, Masjid Istiqlal cukup memadai. Tempat wudu tersebar cukup banyak dengan keran yang mengalirkan air dengan deras. Toilet juga cukup banyak, tetapi kebersihannya kurang terjaga. Aroma pesing masih sering tercium dari sana.
"Pengunjungnya mungkin jorok, tidak menyiram dengan baik. Atau petugas kebersihannya malas karena beberapa kali saya mencium aroma pesing," ungkap Toni yang sering salat magrib berjemaah di sana, kemarin.
Untuk perlengkapan salat, seperti sarung atau mukena, menurut Toni, pengelola Masjid Istiqlal tidak menyediakan. Dia hanya mengetahui ada penyewaan mukena yang kerap ditawarkan kepada pengunjung perempuan. "Istri saya pernah ditawari juga saat salat di sini tempo hari," ujar Toni.
Dari pantauan Media Indonesia, Senin (29/6) sore, mudah dijumpai ibu-ibu yang menyewakan mukena seperti Tuti, 45, (bukan nama sebenarnya) yang duduk menunggu pengunjung di atas karpet merah di dalam aula tempat salat wanita di lantai dua. Dia tengah sibuk mencocokkan kain mukena antara bawahan dan atasannya. Lalu ia masukan ke tas plastik. Tuti ialah satu dari perempuan paruh baya yang menyewakan mukena di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
Sudah dua tahun janda tiga anak itu menyewakan mukena di Masjid Istiqlal. Usahanya itu selain untuk keperluan pribadi, juga amal ibadah. Demi hal tersebut, Tuti rela menginap di masjid dengan membawa dua anaknya yang sedang libur sekolah.
"Asal cukup saja kok. Uang ini bukan juga untuk saya pribadi, tapi juga untuk sedekah, untuk panti asuhan saya," ujarnya ketika ditemui Media Indonesia, Senin (29/6).
Tuti mengaku tidak mematok harga untuk bisa menyewa mukena darinya. Berapa pun dia menerimanya. Sesekali sambil membuka-buka kain mukena yang sudah dirapikan, wanita yang tinggal di wilayah Jakarta Barat itu menawarkan mukena kepada jemaah wanita yang lalu lalang.
Dia bercerita betapa sulitnya ketika ia baru membuka penyewaan mukena di masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Dikejar dan ditangkap sampai diinterogasi pihak keamanan masjid pernah ia lalui. Tuti mengakui menyewakan mukena di dalam masjid dilarang. Namun, ia terpaksa melakukannya untuk mencari nafkah.
"Ya tidak boleh. Tapi mau bagaimana, saya tempuh jalan kompromi. Dulu saya mencari sedekah itu ke kantor-kantor. Tapi semenjak sakit diabetes dan asam urat, saya tidak kuat jalan lagi. Kaki saya sakit. Makanya saya begini," ujarnya.
Dilarang Saat ditemui terpisah, Sekretaris Badan Pengurus Masjid Istiqlal (BPMI) Subandi tegas mengatakan pihaknya melarang keras kegiatan menyewakan mukena tersebut. Pensiunan dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah menambahkan ia bersama pihak keamanan masjid pernah menangkap ibu paruh baya berprofesi serupa beberapa waktu lalu. Di dalam Masjid Istiqlal sendiri sudah disediakan tempat khusus peminjaman mukena secara gratis yang terletak di lantai satu.
Kondisi ekonomilah yang menurut Subandi menjadi akar utama banyak orang melakukan pekerjaan yang dilarang, sama halnya dengan pedagang kaki lima. Untuk itu, memberantasnya pun butuh kerja keras.
"Mereka itu nyaru. Kalau ibu-ibu bisa saja dia itu sedang mabit (bermalam di masjid). Kita tidak tahu dia itu menyewakan mukena. Kita sudah sediakan gratis. Kita kasih tulisan juga. Memang kadang pengunjung juga harus lebih memperhatikan," ujar Subandi kepada Media Indonesia, Rabu (1/7).
Subandi pun mengatakan penjaga keamanan masjid tidak bisa setiap saat merazia orang yang menyewakan mukena serta pengemis yang ada, sebab masalah keamanan di masjid cukup kompleks. Tidak hanya orang yang menyewakan mukena, pengemis, penjual plastik keresek, dan pedagang kaki lima (PKL) rupanya turut menjadi perhatian bagi Subandi.
"Pengemis dan PKL itu yang sangat sulit. Kami sudah minta ditertibkan. Sudah ditangkapi Satpol PP, dimasukkan ke panti sosial, beberapa hari kemudian dilepas, ya, besoknya mereka kembali lagi. Mereka tidak ada kapoknya. Saya sedang pikirkan caranya," ujarnya.(J-3)